VIVAnews - Menteri Kesehatan baru, Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan Departemen Kesehatan tetap akan kerja sama dengan Amerika Serikat dibidang kesehatan.
"Tapi bukan dengan Namru. Kami akan lihat nanti bentuk apa yang sesuai," kata Endang dalam jumpa pers, Kamis 22 Oktober 2009.
Endang mengatakan kerja sama kesehatan Indonesia akan difokuskan pada kerja sama dengan badan kesehatan, bukan badan milik militer Amerika Serikat, seperti Namru-2.
Nama laboratorium penyakit milik Amerika Serikat, Navy Medical Reseach Unit 2 (Namru-2) kembali jadi buah bibir saat Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono menyebut nama Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai calon terpilih Menteri Kesehatan. Sebab, Endang adalah staf Departemen Kesehatan, yang paling 'dekat' dengan Namru.
Kedekatan Endang dengan Namru ini diungkapkan Menteri Kesehatan sebelumnya, Siti Fadila Supari. "Ibu Endang ini adalah orang yang paling dekat dengan Namru diantara dengan semua pegawai Depkes," kata dia.
Riwayat Namru 2 di Indonesia berakhir pada 16 Oktober 2009. Melalui surat bernomor 919/Menkes/X/2009, pemerintah RI melalui Menteri Kesehatan resmi mengakhiri kerjasama dengan Namru 2.
Setelah itu, Laboratorium Namru yang berada di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta, resmi tutup.
Laboratorium Namru-2 sudah berada di Indonesia sejak 1975 berdasarkan perjanjian antara Pemerintah Indonesia dengan AS 16 Januari 1971. Kedudukan Namru-2 awalnya di Taipei pada tahun 1955 sedangkan Namru-1 berada di Brooklyn, AS, dan Namru-3 berada di Kairo, Mesir. Keberadaan Namru-2 di Indonesia sebagai akibat terjadinya wabah penyakit pes di Boyolali 1968 dan karena pemerintah Indonesia belum mampu menanggulangi wabah tersebut maka pemerintah Indonesia meminta bantuan AS.