VIVAnews - Polisi Daerah Sumatera Barat mendapat bantuan personel dari sejumlah Kepolisian daerah dari provinsi tetangga untuk mengamankan objek vital serta tamu-tamu penting yang bermarkas di Padang saat ini. Polisi sebelumnya telah menangkap sebelas penjarah di reruntuhan bangunan terkena gempa.
Pasca gempa 7,6 Skala Richter yang mengguncang Sumatera Barat, Rabu, 30 September 2009, sejumlah objek vital pemerintah yang ambruk mendapat pengawalan ketat dari kepolisian. "Kami akan tetap lakukan pengamanan terhadap orang asing dan sejumlah pejabat negara yang berada di Sumbar saat ini baik secara terbuka maupun diam-diam," kata Kapolda Sumbar, Brigadir Jenderal Polisi Wahyu Daeni.
Menurutnya, 2.000 personil polisi dikerahkan untuk pengamanan, pengawalan, dan patroli. Pengamanan dilakukan di sejumlah tempat yang dinilai vital akan terjadi penjarahan. Polda Sumbar juga mendapat dukungan dari Polda Sumatera Selatan yang menurunkan 1 kompi pasukan, Polda Riau 1 kompi, Polda Sumatera Utara 1 kompi dan Polda NAD 2 peleton.
Sejauh ini, pihak kepolisian telah mengamankan 11 tersangka kasus pencurian pasca gempa. Semua tersangka ini diamankan Poltabes Padang karena kedapatan melakukan pencurian di lokasi-lokasi reruntuhan puing-puing gedung yang rubuh.
Ia berjanji, secepatnya akan memproses kasus tersebut dan dilimpahkan ke kejaksaan. "Secepatnya akan kita proses sesuai mekanisme yang ada," kata Wahyu.
Gempa yang melanda Sumbar mengakibatkan ratusan ribu bangunan rubuh, 787 orang meninggal dan ratusan orang masih terkubur di timbunan longsor dan dinyatakan masih hilang.
Laporan Eri Naldi | Padang