VIVAnews -- Subki Salaf, (27 tahun) adik kandung Ustad Syaefuddin Jaelani alias Zuhri dan Syahrir, yang tinggal di Kampung Dukuh, Desa Babakan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengaku ikhlas menerima kematian kakak kandungnya.
Subki adalah orang pertama yang mendapat kabar soal kematian kakaknya, sesaat setelah polisi menembak mati Syaefuddin Jaelani di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat 9 Oktober 2009.
"Saya sudah ikhlas menerima semua ini, sejak polisi menghubungi saya. Saat ini saya hanya bisa pasrah dan tidak tahu mesti berbuat apa lagi selain berdoa," kata Subki, Jumat 9 Oktober 2009.
Selanjutnya, dia dan keluarga akan bertemu untuk membicarakan rencana pemakaman jenazah apakah akan dilakukan di Jakarta atau di Kuningan.
"Belum bisa menentukan tempat pemakaman kedua kakanya tersebut. Apalagi, sampai saat ini kami belum dipanggil oleh pihak kepolisian untuk tes DNA," tuturnya.
Sumber di kepolisian menuturkan bahwa Jaelani ditembak di dekat Pusdiklat Departemen Agama di daerah Ciputat, Jumat 9 Okotber 2009.
"Benar samping Pusdiklat Depag. Tidak jauh dari Polsek Ciputat," ujar salah satu petugas Polsek Ciputat yang tidak ingin disebut namanya.
SJ disebut-sebut sebagai pengganti Noordin M Top. Sejumlah pengamat terorisme menuturkan bahwa sang ustad cukup kuat posisinya dalam jaringan ini. "SJ, dia kuat," kata pengamat terorisme, Al Chaidar kepada VIVAnews, Rabu 30 September 2009.
Kata Al Chaidar, SJ punya kapastitas untuk jadi pengganti Noordin. "Dia seperti Noordin dalam masalah agama, dia juga bisa berhubungan dengan donatur," tambah dia.
Selain itu, tambah dia, "SJ juga bisa merekrut dan membuat manajemen pergerakan." Menurut Al Chaidar, SJ direkrut sejak tahun 2002 oleh jaringan Noordin M Top. "Sudah tujuh tahun," tambah dia.
Dalam dua laptop Noordin, polisi menemukan tulisan SJ. SJ menyebut dirinya punya posisi penting dalam jaringan Al Qaeda. "Sejak 2005 sampai saat ini, si abi punya posisi strategis jaringan Al Qaeda Asia Tenggara." ujarnya. Dia adalah pimpinan lapangan sekaligus perekrut pelaku bom, Dani Dwi Permana dan Nana Ikhwan Maulana.
SJ juga berperan merekam seluruh persiapan dan kejadian teror bom di dua hotel nahas tersebut. Di sela-sela proses rekaman pernyatan Dani dan Nana, SJ menyerukan kalimat, "Amerika hancur, Australia hancur, Indonesia hancur."
Laporan: Ayatullah Humaeni | Bogor