VIVAnews - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yakin gejala yang terjadi di langit Bone, Sulawesi Selatan, pada pukul 11.00 Wita merupakan gejala yang umum terjadi saat meteorit masuk ke bumi. Jadi benda misterius yang meledak bukan buatan manusia, tapi memang meteor.
Ada tiga hal yang biasa terjadi saat meteorit masuk ke bumi, menimbulkan asap, getaran dan ledakan. Tiga gejala ini muncul akibat gesekan yang terjadi antara benda tersebut dengan atmosfir.
"Ini kondisi yang pernah terjadi di daerah-daerah lokasi jatuhnya meteorit. Itu menunjukkan ada semacam meteorit besar yang masuk ke bumi," kata peneliti utama Astronomi dan Astrofisika LAPAN, Thomas Djalaludin kepada VIVAnews, Jumat 9 Oktober 2009.
Sebab dari pantauan satelit, pada pukul 09.00-11.00 Wita, tidak ada sampah antariksa yang masuk ke bumi. Ledakan, asap dan getara terjadi akibat efek panas gesekan meteor dengan atmosfir dan gelombang kejut dari pembukaan atmosfir.
Thomas meteor yang mengejutkan warga Bone itu berukuran minimal antara 30-50 centimeter. Karena meteor ukuran besarlah yang bisa menimbulkan efek seperti itu. "Kalau ukuran sebesar ini jatuh ke laut, cukup menimbulkan gelombang.
Soal spekulasi ledakan akibat petir kering, Thomas menyangsikannya karena petir tidak akan mungkin meninggalkan jejak berupa asap dan dirasakan di dua kabupaten. "Perlu dipertanyakan sebesar apa petirnya. Tapi kalau dari pengamatan, jatuhnya meteorit biasanya selalu diikuti jejak, seperti asap, ledakan dan getaran tadi," ujar dia.
Seperti diketahui, sebuah ledakan besar terjadi sekitar pukul 11.00 Wita di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Peristiwa itu memunculkan banyak spekulasi tentang sumber ledakan, yakni karena gempa, batu meteor, pesawat jatuh hingga pesawat Sukhoi yang sedang latihan rutin.
Namun, spekulasi itu belum bisa terjawab hingga pagi ini. Persitiwa itu sendiri menggemparkan masyarakat Bone sepanjang Kamis kemarin.