Nasional
Gempa 7,6 SR Guncang Sumatera Barat

Mukjizat, Tak Ada Korban Jiwa di Mentawai

Secara matematis, jarak Mentawai dengan pusat gempa dekat, di belakang episentrum.

Jum'at, 9 Oktober 2009, 08:28 WIB
Elin Yunita Kristanti
Gempa di Kota Padang (ANTARA/Maril Gafur)

VIVAnews - Gempa 7,6 Skala Richter yang terjadi Rabu, 30 September 2009, menyebabkan kerusakan fatal pada sejumlah bangunan di daratan Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang.

Guncangan gempa ini juga merusak bangunan di sejumlah daerah seperti Solok, Pasaman Barat, Kabupaten Agam.

Sementara, Kabupaten Mentawai yang berada di belakang posisi pusat gempa kondisinya justru jauh lebih baik. Padahal, secara matematis jaraknya dekat dengan pusat gempa.

"Gempa ini memang sedikit aneh karena lebih mengarah ke depan sehingga kerusakan di Mentawai tidak terlalu besar," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Syamsul Maarif.

Berdasarkan data yang dilansir BNPB, hingga kemarin malam tak satu pun korban jiwa tercatat di kabupaten tersebut.

"Saya kurang memahami ini kenapa hal itu terjadi, tapi fenomenanya memang seperti itu bila dilihat dari kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa," kata Syamsul.

Menurut Syamsul, butuh ahli geologi untuk menjabarkan fenomena alam tersebut secara teoritis.

Sementara, Wakil Bupati Mentawai, Yudas Sabagalet mengatakan ada sekitar 150 unit bangunan pemerintah mengalami rusak berat akibat gempa Rabu lalu.

Mentawai merupakan kawasan kepulauan yang kerap diguncang gempa. Ancaman gempa dan tsunami berpotensi di perairan Mentawai karena mereka berada di zona pertemuan lempeng Eurasia dengan Indo-Australia.

Menurut penelitian ahli geologi, potensi tsunami besar mengancam jika pusat gempa berada di pertemuan ke dua lempeng itu. Gempa 7,6 SR Rabu kemarin tidak terjadi pada pertemuan lempeng tersebut, namun lebih masuk ke dalam lebih dekat ke daratan Pariaman.

Sadar lingkungannya yang rawan gempa, masyarakat Mentawai punya cara untuk menyelamatkan diri. Salah satunya dengan membangun rumah kayu yang lebih aman saat gempa.

Selain itu, masyarakat mentawai juga siaga, ketika gempa terjadi, mereka akan mengungsi ke Bukit Siberut Selatan yang tingginya mencapai 80 meter hingga 200 meter.

Laporan: Eri Naldi| Padang



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
hamba Allah
26/10/2010
Bnyak2lah bertaubat karena yang Maha benar adalah hukum Allah S.W.T bukan hukum atau teori buatan manusia
Balas   • Laporkan
ANTHON TULAK
12/10/2009
melihat gempa yang terjadi setiap saat mestinya semua koponen bangsa harus intropesi diri apa yang telah kita lakukan selama ini sudah mencerminkan apa yang menjadi anutan kita sebagai orang percaya jangan seaan-akan kita yang paling benar dari penganut a
Balas   • Laporkan
memet
09/10/2009
Kalau semua terserah Allah, buat apa kita hidup, dan buat apa Allah memberi pikiran, buat apa bicara soal Allah. Jadi pikiran selalu Allah akan meniadakan hakekat Allah. Artinya itu Allah bikinan manusia, yag akhirnya nanti sampai pikiran ala Nurdin....m
Balas   • Laporkan
sopian
09/10/2009
Ga harus aneh!!!!!!! Subhaanallah kalau ALLAH SWT sudah berkehendak apapun bisa terjadi
Balas   • Laporkan
pije
09/10/2009
bangunan di mentawai kebanyakan terbuat dari kayu, jadi lebih tahan gempa..
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ