VIVAnews - Lima hari berselang pasca gempa 7,6 skala Richter yang mengguncang Padang Pariaman, Rabu 30 Oktober 2009. Dalam rapat di Kantor Presiden hari ini, Susilo Bambang Yudhoyono menyayangkan informasi tentang jumlah korban jiwa yang simpang siur.
"Saya menyimak pemberitaan, termasuk pemberitaan media asing, saya ikuti running text, cuplikan-cuplikan pemberitaan, di televisi itu. Ada yang harus di sinkronkan, ditata," kata SBY, Senin 5 Oktober 2009.
Diceritakan dia, antara informasi yang dia terima dengan pemberitaan media, jauh berbeda. Sebagai contoh dia menerima laporan jumlah korban baik yang sudah meninggal, hilang, luka berat, yang luka sedang maupun luka ringan. Demikian juga rekapitulasi sementara rumah rusak berat, sedang ringan.
Demikian pula laporan tentang bangunan yang rusak, apakah bangunan pemerintah, sekolah atau mesjid, dan lain-lain. "Catatan saya yang meninggal dan hilang itu jumlahnya 950 sekian jiwa, kemudian, yang luka berat dan luka sedang sekitar 2500," kata SBY.
Namun, di CNN, tambah dia, dalam running text dikatakan yang tertimbun oleh puing-puing bangunan atau tertimbun dikatakan 4000 orang. "Saya minta dicek [ke CNN], saya minta menteri terkait aktif, BNPB aktif, darimana sumbernya. Kita tidak boleh menyiarkan berita yang tidak akurat, nanti membuat bingung masyarakat kita dan masyarakat dunia," tegas SBY.
"Saya meminta kepada [pemerintah] Sumbar untuk sesering mungkin, seakurat, sekomunikatif mungkin dengan para wartawan, baik wartawan dalam negeri maupun luar negeri," kata SBY.
Kepada para wartawan, baik lokal maupun asing, SBY berharap mereka bisa merujuk sumber-sumber yang sah. "Kalau dari sumber yang sah punya informasi yang sahih. Bila ada yang belum dicatat, berikan informasi itu kepada BNPB," kata SBY.
"Satu orang nyawa harus akurat, jangan bermain-main dengan angka. Apakah korban jiwa ataupun korban benda, harus akurat. Kalau belum [akurat], ya terus dibikin, dilengkapi sehingga lebih akurat lagi," tambah dia.
Sebelumnya, berdasarkan data Satkorlak Sumatera Barat, tercatat 608 warga Sumatera Barat meninggal dunia.
Data yang diperoleh VIVAnews pada Senin 5 Oktober 2009, pukul 09.45, tercatat korban tewas terbanyak berada di Kabupaten Padang Pariaman sebanyak 285 jiwa. Di Kota Padang sebanyak 242 jiwa, Kota Pariaman 32 jiwa, Kabupaten Agam 32 jiwa, Kabutapen Pesisir Selatan 10 jiwa.Satkorlak juga mencatat sebanyak 3 warga Pasaman Barat meninggal Serta 20 warga Kabupaten Solok meninggal dunia.
Sebelumnya, PBB mengatakan bahwa korban jiwa yang tewas akibat gempa tercatat 1.100 orang.