VIVAnews- Jelang Lebaran, stok produksi batik di Solo mulai menipis, karena diborong calon pemudik. Kondisi ini membuat produsen batik mulai kewalahan untuk memproduksi batik. Bahkan untuk melayani pesanan pemudik, para pengusaha batik menambah jumlah karyawan lebih banyak dari biasanya.
Pengusaha batik Merak Manis, Bambang Slameto mengatakan, produksi batik untuk lebaran sudah dilakukan sejak awal bulan Ramadan. Tetapi, stok persediaan yang sedianya dipersiapkan untuk Lebaran mendatang malah habis pada bulan Ramadan ini.
"Dari stok pakaian batik ekslusif yang jumlahnya 500 – 1.000 pakaian sudah habis semua. Padahal, stok persediaannya sudah mencapai empat kali lipat tetapi tetap saja kurang jumlahnya," ujar dia di Solo.
Dengan kondisi seperti itu, Bambang pun mengaku menambah jumlah karyawan kontrak sebanyak 40 orang. Sehingga, jumlah totalnya dari 150 menjadi 190 orang. "Penambahan karyawan ini saya lakukan untuk mempersiapkan stok batik menjelang Lebaran mendatang," kata dia.
Mengenai kenaikan nilai omzet penjualan selama Lebaran mendatang, ia memperkirakan akan terjadi kenaikan sekitar 60 persen. Sebab, berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, setiap Lebaran permintaan selalu tinggi. "Biasanya setelah H-1 pemudik sudah mulai memborong pakaian batik," terang Bambang.
Hal senada dikatakan pengusaha batik Mahkota, Alpha Febela. Menurutnya, setiap Lebaran pasti ada peningkatan volume produksi. Karena, pemudik yang pulang ke Solo selalu membeli batik sebagai oleh-oleh ataupun cinderamata dari Solo. "Berdasarkan pengalaman tahun lalu lonjakan permintaan mencapai tiga kali lipat," ujar dia.
Untuk mempersiapkan stok menjelang lebaran, pihaknya harus menolak beberapa pesanan. Hal ini terpaksa dilakukan karena dari segi power produksi sudah tidak memungkinkan.
"Saya menolak karena menjelang Lebaran ini kekurangan karyawan. Sebab, antara power karyawan dengan pesanan sudah tidak seimbang," tambah dia.
Laporan: Fajar Sodiq|Solo