Nasional

Pesan Malaysia pada Media Massa di Indonesia

Pemberitaan media massa di Indonesia diduga jadi pemicu terjadinya aksi sweeping.

Selasa, 15 September 2009, 07:25 WIB
Elin Yunita Kristanti
Ormas Demo Kedubes Malaysia (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews- Media massa di Indonesia dituduh jadi salah satu penyebab merebaknya sentimen anti Malaysia.

Pemberitaan soal kontroversi penayangan Tari Pendet dalam iklan 'Enigmatic Malaysia' diduga penyebab munculnya aksi anarkhis berupa sweeping warga Malaysia di Jakarta.

Para pimpinan media massa di Malaysia meminta jurnalis di Indonesia  bersama-sama berusaha meredakan kontroversi soal Tari Pendet yang berujung pada aksi yang membahayakan keselamatan warga Malaysia yang berada di tanah air.

Dengan tetap menghormati kebebasan pers di Indonesia, para kelompok editor di Malaysia meminta kebijaksanaan para jurnalis di Indonesia ketika memuat isu-isu sensitif terkait hubungan dua negara.

"Jangan sampai kita terlalu mencurahkan fokus dan perhatian pada isu-isu kecil yang tak membawa manfaat pada kedua bangsa," kata Ahmad Talib, pimpinan Aliansi Jurnalis Malaysia-Indonesia (ISWMI), seperti dimuat laman New Straits Times, Selasa 15 September 2009.

Diungkapkan Ahmad, yang juga direktur eksekutif pemberitaan Media Prima, media-media di Malaysia mengamati pemberitaan media di Indonesia terkait kontroversi Tari Pendet. Terutama, tudingan bahwa Malaysia mencuri kebudayaan Indonesia, yang jadi alasan sejumlah kelompok melakukan sweeping warga Malaysia di Indonesia.

Perkembangan situasi itu, kata dia, tak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab, hal itu akan mempengaruhi hubungan antara dua negara, baik hubungan bisnis maupun hubungan antar warga.

Ahmad menambahkan ISWMI akan mengadakan program pertukaran jurnalis untuk menjembatani persoalan tersebut.

Sementara, organisasi baru bernama Malaysia-Indonesia Strategic Centre (MISC) meminta pemerintah dua negara membentuk tim khusus untuk mengkaji apa sebenarnya penyebab yang melatarbelakangi aksi sweeping warga Malaysia.

"Mungkin ada kecemburuaan antara dua negara. Harus ada tim khusus, agar kita tak menghadapi permasalahan yang sama tiap bulan," kata Mohammad Ezam Mohd Nor.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Rei
27/09/2009
Untungnya air yg ngalir n udara yg berhembus d sini g dklaim jg.kl d klaim jgn2 qt dsuruh byr sm malingsial
Balas   • Laporkan
alap alap laut kidul
27/09/2009
Tidak ada yang tahu kebenaran apakah benar malaysia berniat mengklain tari pendet sebagai kebudayaan mereka atau tidak, memang benar ujung-ujungya adalah di media pers, untuk pers juga hati-hatilah memberitakan masalah sensitif seperti ini, jangan sampai
Balas   • Laporkan
Romy
15/09/2009
Hiiiiii, cemburu, apanya yang perlu dicemburuin. Please deh. Kalau maksud loe, mau bangga-banggain menara petronas ..... ya silakan aja. Kite nggak cemburu.
Balas   • Laporkan
indonesia
15/09/2009
Malingsia terlalu sombong. gak pernah menghargai Indonesia. Masak harus ngalah terus sama malingisa.
Balas   • Laporkan
ahmad
15/09/2009
Kayaknya Indonesia dan Malaysia mesti duduk bersama mengatasi masalah, bosan sebentar-sebentar muncul masalah lagi....gak penting banget.......
Balas   • Laporkan
devi
15/09/2009
cemburu? please deh....
Balas   • Laporkan
Erry
15/09/2009
cemburu, apa yang mau di cemburui dari malaise? hanya sedikit respect dari anda terhadap orang indonesia.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ