Nasional
Pesan Bagi Pemudik

Hati-Hati Tradisi Tawur di Jalur Pantura

Tidak jarang dalam Tradisi tersebut, terjadi Kecelakaan lalu lintas.

Minggu, 13 September 2009, 12:23 WIB
Heri Susanto
Jalan Tol (bpjt.net)

VIVAnews- Bagi pengguna jalan yang hendak mudik melintasi jalur Pantura, hendaknya harus lebih hati-hati lagi di jembatan Kali Sewo, desa Sewojaya, kecamatan Pusakanegara, Subang.

Di jembatan yang merupakan perbatasan Subang dengan Indarmayu tersebut, terdapat tradisi unik yang dimiliki oleh warganya, yakni Tawur.

Tawur merupakan bahasa warga setempat untuk menyebut sebuah tradisi berebut uang receh yang dilempar oleh pengguna jalan yang kebetulan melintas di jembatan tersebut. Kendati tradisi tawur tersebut beresiko dengan keselamatan warga, namun warga seakan-akan melupakan resiko demi untuk mendapatkan receh yang dilempar pengguna jalan.

Tradisi tersebut dipastikan akan semakin semarak seiring dengan ramainya arus mudik dan arus balik idul firi 1430 H. Padatnya kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi tidak sedikitpun menyurutkan nyali dari warga sekitar untuk tetap berebut receh, bahkan akan semakin semarak.

Pada hari-hari biasa, warga mengaku mendapatkan rezeki berkisar antara Rp. 10.000-Rp. 15.000/hari. Namun, pendapatan dari usaha “nekad” tersebut akan mengalami peningkatan sampai 3 hingga 5 kali lipat memasuki puncak arus mudik dan arus balik.

“Kalau musim mudik, bisa sampai Rp.30.000- Rp.75.000/hari. Bahkan kadang-kadang sampai Rp. 100.000/hari,”kata salah seorang warga Sewo jaya, Andri.

Kendati mengancam keselamatan warga dan pengguna jalan, namun nampaknya tradisi tersebut akan terus berlanjut. Pengguna jalan yang melintas, mempunyai keyakinan, bahwa ketika melemparkan sedikit rezeki di kawasan jembatan tersebut, mereka akan mendapatkan berkah.

“Dari info yang saya dapet dari teman-temen yang melintas di jembatan ini, kita harus melemparkan receh. Kalo tidak, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang kurang baik. Dan sebaliknya, kita akan mendapatkan berkah, kalau melempar. Makanya, saya ya ngikut aja," kata salah seorang pengguna jalan yang melintas di jembatan Sewo tersebut, Ali.

Tidak jarang dalam Tradisi tersebut, terjadi Kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) yang melibatkan warga dan kendaraan yang melintas. “Tapi tidak mengurangi niat warga untuk tetap Tawur,” kata Andri.

Kapolres Subang, AKBP Sugiyono, menjelaskan memsauki puncak arus mudik, pihakya akan mealakukan penertiban terhadap tradisi tawur tersebut. "Kita lebih tertibkan lagi tradisi itu. Di sana, kita dirikan pos terpadu agar masyarakat di sana lebih tertib,"   jelas Kapolres.

"Kita tidak bisa melarang secara pasti, tapi kita arahkan secara tertib saja, "lanjutnya. 

Laporan: Inin Nastain/Subang



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ