VIVAnews - Kelompok teroris mengubah strateginya. Mereka tidak lagi menyerang kantor kedutaan atau instalasi militer yang dijaga ketat. Mereka kini fokus pada sejumlah target yang dianggap lemah dari segi keamanan.
Menurut laporan Stratfor, agen intelijen di Amerika Serikat, kelompok teroris kini mengincar sejumlah hotel. Alasannya karena hotel lemah dari sisi keamanan.
Stratfor merunut pada data bahwa jumlah penyerangan hotel pasca serangan 9 September 2001 atau 9/11 dua kali lipat dibandingkan delapan tahun lalu. Korban, baik luka maupun tewas, enam kali lipat dibanding periode yang sama.
Penyerangan hotel di Islamabad dan Peshawar, Pakistan, penyerangan hotel di Mumbai di India, dan bom bunuh diri di Indonesia masuk dalam daftar.
Hotel, menurut laporan itu, adalah sasaran utama para ekstrimis. Alasannya, lokasi yang jelas, banyaknya pengunjung, dan penjagaan keamanan yang bisa ditembus.
Hotel juga banyak diinapi orang asing, intel asing, diplomat asing, bahkan pejabat militer. Bagi teroris, itu berarti kesempatan untuk menyerang orang asing secara massal dalam satu kali serangan.
Meski hotel punya standar pengamanan, para teroris tahu bagaimana cara memanfaatkan celah. Seperti yang dilakukan dalam pengeboman Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton pada Jumat 17 Juli 2009, kelompok teroris menyaru sebagai tamu, bahkan memanfaatkan orang dalam.
Laporan intelegen itu juga menunjukan bahwa peran Al Qaeda pun bermetamorfosis dari organisasi yang sentralistik dan tujuan global ke organisasi 'cabang' yang bermain secara regional. Organisasi-organisasi cabang ini memilili dukungan dari kelompok tertentu di masyarakat.
Meski tak punya uang dan tak mendapat pelatihan khusus, organisasi cabang ini tak kalah bahaya. "Mereka akan makin berbahaya jika menjalin hubungan dengan orang yang punya kemampuan taktis tinggi," kata laporan Stratfor seperti dimuat laman Fox News, Rabu 9 September 2009.