Nasional
Hubungan Indonesia-Malaysia

"Mirip Konfrontasi Malaysia Era Soekarno"

"Kita bukan kalah 5-0 dari Malaysia. Ini ibaratnya lima menit pertama sepak bola."

Selasa, 8 September 2009, 11:01 WIB
Elin Yunita Kristanti
Rizal Ramli & Wimar Witoelar (Antara/ David)

VIVAnews - Terangnya persoalan penayangan Tari Pendet dalam iklan 'Enigmatic Malaysia' di Discovery Channel, bahwa Discovery mengaku salah dan minta maaf, tak lantas membuat hubungan dua negeri jiran.

Berbagai aksi penolakan, protes, tudingan terhadap Malaysia masih terjadi di nusantara. Tak hanya berupa protes, aksi juga diwarnai pembakaran bendera Malaysia.

Posko-posko 'ganyang Malaysia' didirikan. Para sukarelawan dikumpulkan. Dengan senjata seadanya, plus tenaga dalam, siap mengobarkan perang melawan negeri jiran.

Kondisi ini disesali oleh pengamat sosial dan politik, Wimar Witoelar. Menurutnya, kondisi saat ini mirip dengan emosi di tahun 1960-an, saat Presiden Soekarno melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia.

"Sukarelawan maju mendaftarkan diri, bahkan pemerintah mengumpulkan mereka dan kirim tentara ke Malaysia, hasilnya, hancur-hancuran. 820 orang jadi korban di pihak kita," kata Wimar kepada VIVAnews, Selasa 8 September 2009.

Sejarah mencatat konfrontasi yang dilancarkan Indonesia gagal dan tidak didukung dunia.

Menurut Wimar, tak semua orang ingin ribut dan merasa marah terhadap Malaysia. Meski tak menyalahkan pihak-pihak yang marah, Wimar tak setuju jika rasa marah sekelompok orang mengatasnamakan seluruh bangsa Indonesia.

Kata dia, bangsa Indonesia harus berfikir arif dalam berhubungan dengan negeri jiran. "Kalau perang kalah, malah ditertawakan. Kita ini negara yang sudah berhasil menyelenggarakan pemilu dengan baik, berhasil menangkap teroris, banyak kemajuan, jangan itu hancur karena emosi sesaat," tambah Wimar.

Bangsa Indonesia, tambah dia, harus fokus ke dalam. "Jangan perasaan minder, lalu mencari akar permasalahan dari luar. Kalau hidup susah, jangan salahkan orang lain," tambah dia.

Merujuk pada kondisi era 60-an, kata Wimar, saat itu kondisi Indonesia sedang dalam kesusahan. Lalu, Presiden Soekarno mengatakan hal tersebut dikarenakan kita dikelilingi imperialis-imperialis. Konfrontasi lalu dilancarkan.

Indonesia, dalam beberapa hal, justru harus belajar dari pengalaman Malaysia. Sebagai negara baru, Malaysia harus 'mengimpor' guru, konsultan, dan tenaga ahli dari Malaysia.

Namun negara yang baru mendapat kemerdekaan dari Inggris itu lalu mengirimkan warganya belajar di luar negeri. "Hasilnya, mereka punya universitas yang lebih terkenal, perusahaan minyak yang lebih besar dari Pertamina," tambah Wimar.

Sebagai negara besar, bangsa Indonesia seharusnya berjiwa besar. Alih-alih mengeluarkan energi untuk marah pada Malaysia, bangsa ini seharusnya memprioritaskan membangun negara dan membereskan masalah-masalah dalam negeri.

Untuk jadi juara, kata Wimar, Indonesia harus berprestasi. "Kita bukan kalah 5-0 dari Malaysia. Ini ibaratnya lima menit pertama pertandingan sepak bola. Indonesia jauh lebih besar, kalau mau saing-saingan kita menang," tambah dia.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
sadam husen
10/09/2010
tolong bapak sby lebih tegas masalah konflik di NKRI terhadap malaysia rakyat indonesia sudah di injak injak oleh negara tetangga bikin indonesia di era bung karno
Balas   • Laporkan
ejal
05/09/2010
knpe benci sme malaysia...?
Balas   • Laporkan
arya
05/09/2010
Betul Bung Wimar,, Bangsa ini nampaknya sudah terlalu lama menderita dalam kemarahan terhadap persoalan dlm negerinya. dan ketika ada bangsa lain menyenggolnya ia menjadi sensitif "emosi jiwa"
Balas   • Laporkan
teguh
18/08/2010
udaaaahhh....jelas jelas dilecehkan kok tenang aja...dasar mental pengecut!!!!!! kalo di gigit nyamuk...tabok aja...jangan pura pura baik dengan mengatakan...udahhh biarin kan sama sama makhluk tuhan!!! baca sejarah bung..........cermati kepemimpinan suka
Balas   • Laporkan
Mahmud
27/12/2009
Ya sudah, buat apa kita mahu perang dengan saudara2 kita (Malaysia),lebih baik kita berkerja sama untuk hapuskan kemiskinan di Nusantara.
Balas   • Laporkan
kopi
12/11/2009
ya jaman bung karno kan..malaysia dibantuin australia,inggris,selandia baru dan negara commonwealth lainnya..kita cuma sendirian doank dikeroyok..ya jelas kita kalang kabut ngadepin mereka..
Balas   • Laporkan
benny
26/09/2009
emang bangsa ini bisanya selalu mencari kambing hitam. yuk, kita introspeksi diri. mau ganyang malaysia, tapi tki masih ada disana semua. gak usah susah sih, tarik balik dulu tki, malaysia pasti blingsatan. siapkah pemerintah? mari ramai-ramai tekan pemer
Balas   • Laporkan
afdi
10/09/2009
setuju!!!!!!1
Balas   • Laporkan
avie
08/09/2009
Pembela malingsia penghianat NKRI. Butakah anda terhadap pelecehan malingsia terhadap kita selama ini? I miss you Bung Karno.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ