VIVAnews - Mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI), Nasir Abbas menolak keras aksi pemboman bunuh diri diaku sebagai aksi jihad. Sejak Bom Bali I tahun 2002, Nasir Abbas mengatakan dia sudah katakan bahwa itu bukan bom jihad.
"Teror bukan dilakukan oleh para mujahid. Bagaimana mereka kita beri gelar mujahid? Karena seorang mujahid tidak pernah membunuh umat," kata Nasir Abbas dalam diskusi bertajuk 'Pluralisme dan Terorisme' di Gedung PP Muhamamdiyah, Jalan Menteng Raya nomor 62, Jakarta Pusat, Jumat 4 September 2009.
Jihad, kata Nasir Abbas, punya banyak arti, tapi teror tak bisa dikatakan jihad. "Untuk pelaku teroris saya lebih suka menyebut mereka pelaku, bom bukan mujahid atau 'pengantin'," kata dia.
"Mereka tidak berguna dan tidak punya ketrampilan. Dan para pelaku bom itu penakut karena takut hidup," tambah Nasir Abbas.
Ditambahkan dia, sejak peristiwa pengeboman Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton pada Jumat 17 Juli 2009, dia serius mengajak masyarakat melawan teroris. Namun, dia menyayangkan sikap masyarakat dan media terhadap teroris.
"Saya menyayangkan bahwa masyarakat berperan dalam mendukung gerakan teroris secara pasif, salah satunya media jadi pendukung pasif," tambah dia. Lho, mengapa?
Caranya, "dengan menggunakan istilah-istilah mereka [teroris], seperti 'pengantin'. Bukankah itu istilah mereka ketika mereka mati dan dijadikan pengantin," tambah Nasir Abbas.
Sebelumnya, dua hari pasca pengeboman Marriott II, Nasir Abbas mengaku sangat yakin, Noordin M Top adalah perancang aksi peledakan tersebut. Bahkan, Nasir menyebut anak buah Dr Azahari itu merupakan dalang dari aksi peledakan di dua hotel mewah itu.
Saya yakin 200 persen bahwa ini adalah hasil kerjaan dia (Noordin M Top)," kata mantan pimpinan jaringan Jemaah Islamiyah (JI), Nasir Abbas, seperti ditulis AP, Minggu, 19 Juli 2009.