VIVAnews - Setelah empat tahun tanpa teror, dua bom bunuh diri meledak hampir bersamaan di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton pada Jumat 17 Juli 2009.
Polisi pun melakukan pelacakan dan perburuan anggota jaringan terorisme. Kepala Kepolisian mengatakan dalam melakukan aksinya jaringan teroris yang dipimpin gembong asal Malaysia, Noordin M Top, menyediakan dua safehouse.
"Di Mampang Prapatan dan Jati Asih," kata Bambang Hendarso dalam paparannya kepada Komisi Hukum Dewan, Kamis 3 September 2009.
Para pelaku juga melakukan survei berkali-kali di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton selama Juni dan Juli 2009. "Eksekusinya dari safehouse Mampang," tambah Kapolri.
Sebelumnya, sumber terpercaya mengatakan taksi yang membawa bomber, Dani Dwi Permana membawa remaja berusia 18 tahun tersebut dari Jalan Bangka, dekat Mampang, Jakarta Selatan.
Dani, lanjut Kapolri menginap di Hotel JW Marriott sejak 15 Juli 2009 sementara bomber Ritz Carlton, Nana Ikhwan Maulana menginap pada 17 Juli 2009.
"Setelah peledakan, para pelaku berada di Jatiasih. Keduali Amir Abdillah yang lainnya di Jawa Tengah, persiapan operasi peledakan berikutnya dalam waktu yang tidak terlalu lama, dengan sasaran presiden," tambah Bambang Hendarso.
Dalam waktu bersamaan dengan penggrebekan di Desa Beji, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu 8 Agustus 2009, polisi juga menggrebek sebuah rumah di Puri Nusaphala, Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat.
Polisi menemukan lebih dari 120 kilogram bahan peledak siap rakit. Menurut polisi, bahan-bahan peledak itu ditujukan ke dua sasaran, Istana Negara dan Puri Cikeas, kediaman Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono.