VIVAnews - Ribuan warga Cisompet dan Pamempeuk, Garut Selatan, Jawa Barat memilih tidur di luar rumah menyusul gempa berkekuatan 7,3 skala richter yang terjadi barat daya Tasikmalaya. Mereka khawatir gempa susulan yang masih terus terjadi, sebab gempa berkekuatan sekitar 5 skala richter masih terus terjadi hingga malam hari.
Jalan Garut-Pamempeuk yang pada hari-hari biasa sejak pukul 18.00 sudah sepi dan tidak ada lagi orang yang lewat dan berkeliaran meski rumahya di pinggir jalan, paska gempa, jalanan mendadak semarak. Warga yang biasanya tidur pukul 09.00 hingga dini hari tadi masih terjaga.
Warga laki-laki menjaga kaum perempuan yang beristirahat di dalam tenda darurat yang dibangun dari terpal dan kain sarung seadanya. Tenda itu didirikan di sepanjang pinggir jalan.
Untuk menerangi dan menghangatkan tubuh dari dinginnya cuaca malam hari, warga bergotong royong membuat api unggun di sekitar rumah dan tendanya. Satu tenda biasanya diterangi satu gundukan api unggun.
Mereka terpaksa membuat api unggun karena paska gempa listrik di kawasan itu mati. Warga lain yang tidak membuat tenda, memilih tidur di depan teras rumahnya dengan membawa kasur dan perlengkapan tidur. Perabotan rumah tangga miliknya juga ikut diungsikan ke luar rumah.
Sementara di kecamatan Pamempeuk yang listriknya sudah menyala pukul 18.00 WIB masih bisa menikmati siaran televisi yang ditaruh di luar rumah. Mereka juga belum berani tidur di dalam rumah dan memilih teras sebagai tempat tidurnya.
Gempa yang terjadi pukul 14.55 WIB, Rabu 2 September 2009 menewaskan sedikitnya 42 orang yang tersebar di Bandung, Tasikmalaya, Garut dan Jakarta.
Laporan: ULI | Garut
• VIVAnews