VIVAnews - Keberadaan penterjemah bahasa (Interpreter) pada misi perdamaian dunia PBB diakui sangat berperan penting dalam menunjang keberhasilan tugas yang diemban oleh para peacekeeper.
Seperti halnya Satgas TNI Konga XXIII-C (Indobatt/Indonesian Battalion) yang sedang melaksanakan misi perdamaian dunia di UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) - Lebanon Selatan.
Saat ini Indobatt memiliki 8 interpreter lokal (warga Lebanon) yang bertugas sebagai penterjemah bahasa dari Arab ke Inggris. Ke-8 penterjemah ini setiap hari bertugas membantu anggota Satgas yang sedang melaksanakan interaksi dengan masyarakat seperti dalam kegiatan patroli, medical assistance, smart car, computer class dan lain-lain.
Masyarakat Lebanon Selatan sehari-hari menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa nasional dan sedikit yang berbahasa Inggris, sehingga dalam berinteraksi dengan masyarakat keberadaan interpreter menjadi sangat penting.
Seiring dengan padatnya kegiatan yang dilakukan oleh Satgas TNI yang berada di Lebanon, jumlah interpreter yang ada saat ini dinilai kurang mencukupi, apalagi keberadaan mereka yang tersebar di kompi-kompi.
Christopher Wilkinson, Kepala Bagian Administrasi (Chief of Administrator) Sektor Timur Unifil yang menangani masalah interpreter, mengatakan Indobatt akan mendapat tambahan 2 orang interpreter.
Proses administrasi dan seleksi sudah selesai dilakukan, tinggal menunggu posting (penempatan), sedangkan pengaturan di Indobatt diserahkan sepenuhnya kepada user.
Dalam struktur organisasi Satgas, di Indobatt sendiri sudah terdapat 4 orang interpreter yang meliputi 1 orang interpreter bahasa Perancis, 1 orang Inggris dan 2 orang untuk bahasa Arab. Untuk interpreter lokal (UN Local Staff) mereka bekerja selama jam dinas atau 8 jam perhari, 5 hari seminggu.
Kondisi ini diperlukan pengaturan yang memaksa harus ada minimal satu orang interpreter untuk stand by di masing-masing kompi maupun markas Indobatt jika sewaktu-waktu dibutuhkan, khususnya pada hari-hari libur Sabtu dan Minggu, sebab kegiatan operasional Satgas sendiri tidak mengenal hari libur khususnya patroli yang harus dilakukan setiap hari.
Meskipun para interpreter bekerja selama 8 jam perhari, namun sering diantara mereka yang bekerja over time (lembur), dan tidak jarang diantara mereka yang mau datang pada waktu libur atau di luar jam dinas, karena memang sedang dibutuhkan.
Salah satunya adalah Muhammad Aschmar yang tinggal dekat dengan Markas Kompi A di mana mereka bekerja, mengatakan "kapan saja saya dibutuhkan saya selalu siap," ujarnya.
amril.78@vivanews.com