Nasional

Tari Pendet Milik Bali Sejak Ratusan Tahun

Penari sepuh Ni Ketut Arini mengaku kaget ada tari Pendet dalam iklan pariwisata Malaysia.

Sabtu, 22 Agustus 2009, 16:01 WIB
Ita Lismawati F. Malau
Tari Pendet, Bali (bali-trafel-live.com)

VIVAnews - Tari Pendet sudah ada sejak ratusan tahun lalu sebelum akhirnya disusun kembali tahun 1951 oleh Wayan Rindi dan seorang penari Ketut Reneng yang sudah meninggal.

Hal ini disampaikan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) I Wayan Dibia, Sabtu 22 Agustus 2009. Kemudian, lanjut Dibia, pada 1961 tarian disempurnakan lagi oleh Wayan Beratha yang awalnya hanya ditarikan empat penari menjadi lima sampai tujuh orang.

Bahkan saat pagelaran olahraga tingkat Asian di Jakarta tahun 1962 yang pada saat itu Presiden RI Soekarno ikut mendorong proses penciptaan tari Pendet masal ini. Tari Pendet kemudian lebih dikenal dengan Pendet Puja Astuti (guna membedakan dengan Pendet upacara keagamaan). Tarian ini menjadi tarian kolosal yang dibawakan 3.000 penari yang 800 penari didatangkan dari Bali.

Tari Pendet adalah tarian kelompok yang biasa ditarikan oleh sekelompok remaja putri setiap penari memegang mangkok perak (bokor) berisikan bunga warna-warni. Pada akhir tariannya, para penari menaburkan bunga-bunga yang mereka bawa ke arah penonton sebagai wujud ungkapan dan ucapan selamat datang.

"Di mata dunia internasional, tari Pendet adalah identik dengan tarian selamat datang (welcome dance) yang menampilkan dara ayu berpakaian Bali," terang Dibia yang juga seniman Bali itu.

Sementara itu, salah satu penari sepuh Ni Ketut Arini mengaku kaget dengan iklan pariwisata Malaysia yang menayangkan tari Pendet. Pasalnya, sejak tarian itu dimodifikasi, Arini bersama tiga orang temannya, yaitu Ni Luh Roni, Gusti Putu Sita, dan Wayan Merti, yang menarikan Pendet. Ia menyesalkan mengapa Malaysia kemudian mengklain Pendet adalah budaya Malaysia.

"Saya bersama teman-teman yang menarikan di Hotel Bali yang sekarang sudah berganti nama menjadi Inna Bali Hotel," kata Ni Ketut Arini.

Laporan : Wima Saraswati | Bali



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
annas nashrullah
24/08/2009
aneh sudah terlalu banyak catatan buruk berhubungan dengan malaysia, tapi koq kita demen banget aman tuh negara. apa nunggu ancur dulu baru berani angkat senjata!!!!!!!!!! -bakudara.com-
Balas   • Laporkan
dsk
24/08/2009
kalo ga punya budaya knapa hrs pake budaya orang apalagi ngaku-ngaku panya sendiri. apa itu bisa dipertahankan keanak cucumu? smoga tuhan mengutuk malaysia 7 turunan! jadi negara maling pengebom, penyiksa, pemerkosa hak budaya dan negara penyakitan
Balas   • Laporkan
liz qiu
23/08/2009
malay oh malay..malangnya nasibmu..ga punya identitas diri yg bener2 asli..
Balas   • Laporkan
Mohamad Rizal
22/08/2009
Satu kata untuk Malaysia, "PERANG"
Balas   • Laporkan
djoy
22/08/2009
hebat
Balas   • Laporkan
mamat
22/08/2009
kurang ajar itu, kalau mau pariwisata maju belajar dong dengan jujur jangan ngakuin keringat orang lain. dasar ........
Balas   • Laporkan
Soleman
22/08/2009
Wakakaka Nekatnya Malay.... Ga tau diri...
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ