Please install the Flash Plugin
VIVAnews - Kepolisian RI menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) untuk melacak aliran dana yang mendanai kegiatan teroris di Indonesia. Kepala PPATK, Yunus Husein mengatakan pihaknya selama 2004 sampai 2009 menemukan 80 transaksi mencurigakan yang diduga terkait jaringan teroris.
"Itu yang terkait terorisme, kalau totalnya yang kita temukan ada 3.700 transaksi mencurigakan," kata Yunus Hussein seperti ditayangkan tvOne, Kamis 20 Agustus 2009.
Menurut Yunis Hussein ada beberapa karakter transaksi yang kerap digunakan anggota maupun pendukung jaringan teror. "Karakternya, mereka bertransaksi lewat ATM [anjungan tunai mandiri], tambah dia.
Di Indonesia ada sekitar 130 bank, menurut Hussein, mereka memilih bertransaksi melalui bank-bank besar. "Yang banyak jaringannya," kata Yunus.
Selain itu, jelas Yunus, orang yang bertransaksi berbeda-beda, satu rekening dipakai transaksi banyak orang. Mereka menarik uang beberapa ratus ribu rupiah sampai jutaan.
Dana terbesar bahkan dibawah Rp 5 juta. "Karakter transaksi mereka dengan jumlah kecil, ratusan ribu dan beberapa juta," tambah dia.
Yunus lalu menyebut beberapa kota yang diduga menyumbang dana bagi jaringan teroris. "Jogjakarta, Jakarta, Karawang, Bekasi, Bandung, Poso, tersebar. Berapa jumlah orang yang bertransaksi belum bisa diketahui," tambah dia.
Dari penarikan dan transaksi diketahui ada hubungan keuangan. "Berarti dia satu kelompok," tambah dia.
Tak hanya memburu anggota kelompok jaringan Noordin M Top, polisi juga berusaha melacak dan memutus hal yang paling penting untuk para teroris, pendanaan.
Sebelumnya, Pengamat Terorisme, Mardigu Wowiek Prasantyo mengatakan ada tiga hal yang jadi sumber dana para teroris.
"Mendapatkan dari orang-orang seperti Saefudin Jaelani, selain merekrut dia mencari dana. Caranya dengan mengajar ngaji, bekam, dan sebagainya. Orang-orang inilah yang cari, dengan cara berhubungan dengan masyarakat," kata Mardigu, Rabu 19 Agustus 2009.
Pilihan kedua, tambah dia, ekstrim, yakni dengan cara merampok. "Dulu mereka pernah merampok, namun pilihan merampok terlalu besar resikonya," tambah dia.
Sementara, yang ketiga adalah, mereka mendapat sokongan dari kelompok militan, termasuk Al Qaeda. "Itulah yang coba ditutup, dana bisa datang lewat Malaysia, Singapura, Filipina, dan sebagainya. Harus ada kerjasama antar pemerintah memutus aliran itu," tambah Mardigu.