VIVAnews - Bukan perkara gampang mengungkap dan menangkap jaringan teroris secara tuntas. Meski demikian, para teroris bukan manusia super. Pengamat Terorisme, Mardigu Wowiek Prasantyo mengatakan ada beberapa hal yang bisa memaksa mereka 'turun gunung'.
Yang pertama adalah kesalahan manusia atau human error. "Misalnya membuat bom lalu meledak, seperti yang terjadi pada 2002 di Bandung dan tahun 2004 di Cicurug," kata dia seperti ditayangkan tvOne, Rabu 19 Agustus 2009.
Teroris juga bisa merasa capek berjuang karena lelah atau pendanaan yang berhenti. "Kelompok Noordin mungkin tidak, namun yang lain bisa saja begitu," tambah dia.
Aksi teror bom bunuh diri, seperti yang terjadi di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton pada Jumat 17 Juli 2009 justru bisa menjadi bumerang bagi para teroris. Mengapa? "Mereka bisa turun gunung jika ada peristiwa, seperti di Marriott," kata Mardigu.
Setiap peristiwa akan ditanggapi serius dan berusaha diungkap oleh aparat, dalam hal ini Detasemen Khusus 88 Antiteror. Operasi antiteroris, kata Mardigu, selalu berhasil mengobrak-abrik jaringan teroris. Penghianatan salah satu anggota jaringan teroris juga akan mengungkap hal-hal baru dalam jaringan teroris.
"Yang keempat, digrebek masyarakat," tambah Mardigu. Dengan pemberitaan media yang gencar, kesadaran masyarkat makin besar untuk menolak teror. Tanpa dikoordinasi pemerintah, aparat bertindak sendiri, membentuk organisasi bebas yang menyatakan perang terhadap terorisme.
Meskipun gembong teroris asal Malaysia, Noordin M Top belum tertangkap, polisi sudah berhasil mengungkap kasus bom bunuh diri di Hotel Marriott dan Ritz Carlton. Polisi mengungkap dua pelaku bom yakni Dani Dwi Permana dan Ikhwan Maulana.
Densus 88 juga mengungkap peran Ibrohim alias Boim, sebagai pelaku dominan pengeboman tersebut. Adik ipar Ibrohim, Saefudin Jaelani juga terungkap sebagai perekrut para 'calon pengantin' dan penyuplai dana.
Dalam penggerebekan di Kompleks Puri Nusaphala, Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat, polisi menemukan lebih dari 120 kilogram. Polisi mengklaim bahan peledak tersebut akan digunakan untuk meledakan Istana Negara dan kediaman Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Bogor, Jawa Barat.