VIVAnews - Tak hanya memburu anggota kelompok jaringan Noordin M Top, polisi juga berusaha melacak dan memutus hal yang paling penting untuk para teroris, pendanaan. Pengamat Terorisme, Mardigu Wowiek Prasantyo mengatakan ada tiga hal yang jadi sumber dana para teroris.
"Mendapatkan dari orang-orang seperti Saefudin Jaelani, selain merekrut dia mencari dana. Caranya dengan mengajar ngaji, bekam, dan sebagainya. Orang-orang inilah yang cari, dengan cara berhubungan dengan masyarakat," kata Mardigu seperti ditayangkan tvOne, Rabu 19 Agustus 2009.
Pilihan kedua, tambah dia, ekstrim, yakni dengan cara merampok. "Dulu mereka pernah merampok, namun pilihan merampok terlalu besar resikonya," tambah dia.
Sementara, yang ketiga adalah, mereka mendapat sokongan dari kelompok militan, termasuk Al Qaeda. "Itulah yang coba ditutup, dana bisa datang lewat Malaysia, Singapura, Filipina, dan sebagainya. Harus ada kerjasama antar pemerintah memutus aliran itu," tambah Mardigu.
Seperti dikutip laman Brisbane Times, hari ini, penangkapan seorang warga negara Arab Saudi, Ali Muhammad Abdillah di Kawasan Nagrek, Kuningan, Jawa Barat dalam kasus terorisme makin memperkuat dugaan adanya kaitan jaringan teroris di Indonesia dengan kelompok militan di Timur Tengah, termasuk jaringan teroris Al Qaeda.
Ali Muhammad diduga kuat sebagai kurir dana. Salah satu sumber kepolisian mengatakan jika terbukti Ali adalah kurir dana, ini merupakan gangguan berarti bagi Noordin dan para pengikutnya.
Kaitan jaringan teroris di Indonesia dengan Al Qaeda, bukan hal yang baru. Al Qaeda setidaknya diketahui menyokong pendanaan pengeboman bom Bali 2002 dan penyerangan Hotel Marriott pada 2003, yang dirancang oleh aktor utama terorisme di Asia Tenggara, Hambali.
Namun suplai dana mengering setidaknya dalam enam tahun terakhir, buntut penahanan Hambali di Gunatanamo. Hambali ditahan bersama saudaranya, Gun Gun Rusman Gunawan dan teman dekatnya Zubair.
Sebelumnya, pengamat Terorisme, Al Haidar mengatakan sumber dana teroris tak mesti dari Jamaah Islamiyah (JI) atau jaringan Al Qaeda. "Masyarakat biasa, di wilayah Arab, ada yang mau memberikan dana kepada kelompok jihad," tambah Haidar.
Hebatnya, dana tersebut diberikan secara terus menerus. "Banyak penyumbang untuk kelompok jihad, dari Arab saja. Masyarakat [penyumbang] itu sudah masuk aliansi tapi tidak masuk sel," tambah Haidar.