VIVAnews - Kepolisian Australia Selasa 4 Agustus 2009 pagi menggrebek anggota jaringan teroris Somalia yang berencana melakukan aksi serangan bunuh diri di markas militer Holsworthy, yang terletak di barat Sydney, Australia.
Menurut Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda mengatakan kelompok teror yang berencana menyerang Australia dan kelompok di balik serangan bom bunuh diri di Jakarta diduga berkaitan.
"Saya yakin mereka tak berkaitan langsung, tapi mungkin mereka berhubungan di level atas," kata Hassan di Cairns, Australia, Kamis 6 Agustus 2009 malam, seperti dimuat laman Hillsnews, Jumat 7 Agustus 2009.
Aktor di belakang dua bom bunuh diri di Jakarta adalah Noordin M Top, anggota jaringan Al Qadea. Sedangkan, pelaku rencana teror di Australia adalah kelompok teroris asal Somalia, Al Shabab yang diduga terkait dengan jaringan Al Qaeda.
Sementara, Menteri Luar Negeri Australia, Stephen Smith mengatakan keterkaitan teroris di Indonesia dan yang berencana beroperasi di Australia, tak mengejutkan.
"Seperti halnya pemerintah berkomunikasi satu sama lain, kelompok teroris juga melakukan kontak secara internasional," tambah dia.
Kedatangan Hassan Wirajuda ke Australia untuk menemui Menlu Australia dan Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd. Selain itu, Menlu juga akan mengadiri forum dialog.
Kata Pak Menlu, kunjungannya juga untuk membicarakan isu-isu strategis mengahdapi aksi terorisme dan penyelundupan manusia.
Ditambahkan dia, teroris masih jadi ancaman regional, bahkan ancaman dunia. "Kita berutang pada para korban, utang untuk membawa pelaku mempertanggungawabkan perbuatannya di depan hukum," tambah Hassan Wirajuda.
**************
Sekitar 100 warga Australia jadi korban dalam sejumlah serangan teror di Indonesia.
Rencana teror di markas militer Australia makin memperkuat bukti bahwa negara ini jadi sasaran. Sebab, tujuan teror adalah untuk menghukum militer Australia karena terlibat dalam sejumlah operasi militer di negara-negara muslim.
Australia bagai menelan pil pahit. Pasca serangan teror di menara kembar World Trade Centre (WTC) 11 September 2001, pemerintah negeri Kanguru tersebut menyatakan perang terhadap teroris. Australia kemudian bergabung dengan Amerika Serikat menggelar operasi militer di Afghanistan dan Irak.
Namun apa yang dilakukan Australia justru membuat negara dan warganya jadi sasaran teror. Ledakan Bom Bali I tahun 2002 jadi bukti, sebanyak 88 orang Australia tewas saat itu.
Dalam rencana teror yang ditemukan di komputer jinjing milik Dr Azahari, Australia memang jadi sasaran. Selain mengincar warga Australia dan warga barat lainnya, kelompok Azahari juga mengincar penerbangan dari atau ke Australia sebagai sasaran teror.