VIVAnews - Foto wajah Ibrohim karyawan bagian florist Hotel Ritz Carlton yang diduga terkait jaringan terorisme disebar di Bali, Jumat, 7 Agustus 2009. Penyebaran dilakukan ke sejumlah lokasi yang cukup strategis seperti pemukiman penduduk, pasar tradisional.
Foto Ibrohim terbagi menjadi dua versi yaitu pada foto pertama berwajah polos dengan ciri-ciri dahi lebar, rambut hitam lurus, perawakan sedang, kulit sawo matang, dengan tinggi 170 cm, bibir tipis, tidak merokok, bahasa yang digunakan Indonesia-Sunda. Sedangkan foto kedua mengenakan topi hitam.
Dalam foto tersebut juga disebutkan keterlibatan Ibrohim kasus peledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta, 17 Juli lalu.
Dituliskan juga Ibrohim beralamat di Dusun Kliwon RT 28 RW 10, Desa Sampora Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Dia dijerat pasal 6, 9, 24, atau pasal Perpu nomor 1 tahun 2002, yang telah ditetapkan menjadi UU RI nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme.
Menurut juru bicara kepolisian daerah Bali, Komisaris Besar Gde Sugianyar mengatakan bahwa penyebaran foto ini dikeluarkan Densus 88/Antiteror mabes Polri berdasarkan surat Kadensus Bareskrim Mabes Polri nopol: R/486/VII/2009 tanggal 29 Juli 2009 tentang daftar pencarian orang atas nama Ibrohim alias Aam alias alias Boim.
Foto tersebut telah diperbanyak untuk dibagikan ke seluruh polres se-Bali dan diteruskan ke polsek lalu kepada babinkamtibmas yang ada di setiap desa. “Jumlah yang akan disebar mencapai ratusan dan kalau kurang bisa diperbanyak lagi,” jelas perwira menengah melati tiga ini, Kamis, 6 Agustus 2009.
Jika masyarakat mencurigai sesuai dengan foto dalam DPO tersebut, agar melaporkan ke pos polisi terdekat atau menghubungi nomor telepon ke Densus 88 Polda Bali 0361-233184 atau 0361-246009 atau siaga Polda Bali di 0361-234409.
Selain penyebaran foto DPO, di seluruh jajaran Polda Bali rutin melakukan razia di beberapa titik untuk mempersempit ruang gerak kelompok teroris maupun kejahatan lain.
"Densus 88 Polda Bali dan jajaran lainnya akan terus memonitor semua kegiatan. Dan tidak pernah berhenti karena teroris menunggu kita lengah untuk itu harus tetap meningkatkan kewaspadaan," ujar Sugianyar.
Laporan: Wima Saraswati | Bali