Please install the Flash Plugin
VIVAnews - Pemerintah melalui Departemen Luar Negeri diminta untuk membantu kasus tewasnya mahasiswa Indonesia di Singapura, David Hartanto Wijaya. Sejak kasus ini terjadi, pemerintah baik Deplu dan Presiden tidak terlibat aktif.
"Apa yang kami harapkan adalah peran aktif pemerintah. Walaupun tidak ada perjanjian ekstradisi dengan Singapura. Tapi ini terkait Hak Asasi Manusia yang menimpa anak bangsa," kata ketua tim advokasi kasus David, Christovito Wiloto bersama OC Kaligis, di Jakarta, Jumat, 31 Juli 2009.
Christov pun mencontohkan kepedulian negara lain kepada warga negaranya yang terkait kasus di negara lain. Seperti kasus narkoba yang menimpa warga Australia di Bali, Indonesia.
"Ada pula warga Filipina yang sedang bekerja di Singapura. Itu langsung ditangani Arroyo (Presiden Filipina)," kata Christov. Tim advokasi menduga ada konspirasi besar yang bukan hanya dilakukan oleh Nanyang Technology University (NTU), kampus David. Tapi, lebih dari itu.
Contohnya, "Keterlibatan polisi Singapura dalam menutupi kronologis dan bukti-bukti sampai ke Pengadilan. Pengadilan itu dianggap sandiwara. Karena banyak saksi-saksi yang terteken dan terkesan diarahkan," jelas dia.
Keluarga pun menyesali penolakan bukti-bukti yang diajuka. Malah, pengadilan justru menerima bukti yang diajukan pihak Profesor Chan Kap Luk. "Bukti itu yang membuat kasus ini diputuskan bahwa David dinyatakan bunuh diri.
David Hartanto Widjaja tewas terjatuh dari gedung pada 2 Maret 2009. Beberapa menit sebelumnya, mahasiswa 21 tahun itu terlihat lari keluar dari kantor dosen pembimbingnya, Chan, di tengah diskusi mereka terkait skripsi David.
Media massa Singapura lantas mengambarkan David sebagai mahasiswa yang nekat menusuk dosennya lantas bunuh diri. Media massa di sana juga memberitakan spekulasi bahwa David memutuskan bunuh diri gara-gara beasiswanya diputus.
Tentu saja, pemberitaan-pemberitaan tersebut ditolak keluarga. Keluarga justru berpendapat, David adalah korban dari tragedi ini. Kematian David semakin misterius karena disusul kematian dua staf peneliti asal China, Zhou Zheng (24) dan Hu Kunlun. Ketiganya berasal dari Universitas, bahkan jurusan yang sama.
ismoko.widjaya@vivanews.com
• VIVAnews