VIVAnews - Rangkaian teror di Indonesia dipercaya dilakukan oleh duet gembong teroris Malaysia, Noordin M Top dan mendiang Dr Azahari. Meski demikian, mantan pemimpin Jamaah Islamiyah, Nasir Abas mengatakan keduanya datang dan beraksi atas undangan warga Indonesia.
"Ini keinginan dari warga Indonesia. Hambali, Muklas [kakak kandung Amrozi] mengundang dan memindahkan mereka [Noordin dan Azahari] ke Indonesia," kata Nasir Abas dalam perbincangan di tvOne, Rabu, 29 Juli 2009 malam.
Sebelum dicokok dan ditahan di Penjara Guantanamo milik Amerika Serikat, nama Hambali tak pernah absen di setiap aksi teror di Asia Tenggara.
Tak hanya dipercaya sebagai otak Bom Bali, Hambali juga merancang teror di negeri jiran, meledakan Jembatan Johor dan menebar teror di Bandara Changi, Singapura dengan plot serupa dengan pengeboman menara kembar World Trade Centre 11 September 2001, membajak pesawat dan menabrakannya ke area bandara.
Oleh badan intelijen Amerika Serikat (CIA), Hambali disebut-sebut sebagai 'Osama Bin Laden' Asia Tenggara.
Siapa sebenarnya Hambali?
Terlahir sebagai Encep Nurjaman di Desa Sukamanah, Cianjur, Jawa Barat pada 4 April 1966, Riduan Isamuddin alias Hambali diyakini sebagai pimpinan organisasi bayangan kelompok Jamaah Islamiyah (JI) Asia Tenggara.
Hambali kecil lahir dalam sebuah keluarga besar yang sederhana. Pada masa represi kekuasaan Presiden Soeharto pada dekade 1970-an dan 1980-an, Hambali lari ke Malaysia pada tahun 1985, dalam usia 19 tahun. Dia lari bersama tokoh-tokoh Islam lain seperti Abubakar Baasyir.
Dari Malaysia, Hambali menuju Afganistan tahun 1988 sebagai pejuang Mujahidin melawan invansi Uni Sofyet. Dua tahun kemudian, pada 1990 Hambali kembali ke Malaysia. Saat itulah dia diyakini mulai merekrut para pemuda muslim untuk kegiatan yang dia sebut jihad.
Pasca runtuhnya kekuasaan Soeharto pada 1998, Hambali kembali ke Indonesia pada Oktober 2000. Di tanah air dia juga merekrut sejumlah relawan jihad. Teror pun terjadi.
Aksi pertama yang diduga dilakukan Hambali adalah pemboman malam Natal tahun 2000, sebanyak 18 orang tewas dalam serangkaian pemboman di sejumlah gereja. Nama Hambali berulang disebut oleh para tersangka pemboman yang tertangkap. Mereka menyebut Hambali sebagai otak pengeboman.
CIA bahkan menduga Hambali ikut merancang serangan teroris paling fenomenal di awal abad 21. Dia mempertemukan dua pembajak pesawat, Khalid al-Mihdhar dan Nawaf al-Hazmi dengan tokoh-tokoh Al Qaeda di Malaysia pada Januari 2000. Foto-foto yang membuktikan adanya pertemuan itu telah dirilis.
Hambali disebut-sebut sebagai orang non-Arab di komite militer Al Qaeda.
Hambali juga diyakini terkait dengan tersangka pemboman kapal induk Amerika Serikat, USS Cole di Yaman, Oktober 2000.
Perannya di Bom Bali 2002 menewaskan 202 orang dan pengeboman Marriott 2003 yang menewaskan 13 orang mambuat Amerika ikut memburunya. Tak hanya sebagai otak pelaku, Hambali juga menyediakan dana sebesar US$ 36.000 untuk operasi Bom Bali.
Hambali diyakini memakai teknik yang sama di setiap aksi pemboman. Caranya, mendatangi pelaku lapangan dengan 'rencana detil, sejumlah uang tunai, dan dua pembuat bom untuk menjelaskan cara kerja bahan peledak'
Hambali tak hanya merancang teror di Indonesia. Rencana peledakan Bandara Changi, Jembatan Johor, dan perannya di balik serangkaian teror di Filipina membuatnya jadi buronan antar negara. Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina menempatkannya sebagai buron kasus terorisme nomor wahid.
Untuk menghindari penangkapan aparat, Hambali hidup dalam pelarian. Dia menempati sejumlah lokasi rahasia di seluruh Asia Tenggara, terutama Thailand dan Kamboja.
Saat berada di Ayutthaya, sekitar 75 kilometer dari Bangkok, Thailand, Hambali merencanakan aksi teroris menyerang sejumlah hotel di Thailand dan sidang Asia Pacific Economic Cooperation summit (APEC) di Bangkok tahun 2003. Ketika masuk ke Thailand dia menggunaka paspor palsu Spanyol sementara istrinya, Noralwizah Lee Abdullah menggunakan paspor Malaysia.
Aksi Hambali dihentikan pasukan CIA dan Kepolisian Thailand pada 11 Agustus 2003. Sebanyak 22 pasukan berpakaian preman mendobrak apartemen Ayutthaya, menahan Hambali dan istrinya. Saat ditangkap, Hambali tak memakai jubah.
Saat ditangkap Hambali sedang mengenakan jeans, kaos, topi baseball, dan sepasang kacamata. Polisi menemukan bahan peledak dan bom di kediaman Hambali. Hambali ditangkap saat berusia 37 tahun.
Setelah ditangkap, Hambali sempat ditahan di Yordania. Pada 6 September 2006, Presiden Amerika Serikat saat itu, George Bush mengkonfirmasi bahwa Hambali dalam penanganan CIA dan dikirim ke Teluk Guantanamo, Kuba.
Secara khusus, mantan Presiden AS, George Bush menyebut Hambali sebagai 'satu dari tokoh teroris paling berbahaya di dunia'. Sedangkan mantan Perdana Menteri Australia John Howard menyebutnya 'perantara utama Al Qaeda dan Jamaah Islamiyah'.
Aksi Hambali mungkin terhenti dibalik kungkungan Guantanamo, namun rencana teror dilanjutkan oleh anak didiknya.
"Karir yang luar biasa, dari anak desa biasa jadi seorang tokoh teroris kelas dunia," kata seorang anggota senior Kepolisian Malaysia yang ikut serta dalam perburuan Hambali.
"Hambali 'berhasil' menempatkan Asia Tenggara dalam peta terorisme dunia," tambahnya.