VIVAnews - Menyusul pengakuan Noordin M. Top di internet bahwa dirinya bertanggungjawab atas pengeboman di Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW Marriott, kini jejak bom Noordin kian banyak.
Setidaknya, Noordin pernah membuat Indonesia bergetar sebanyak empat kali. Berikut adalah aksi-aksi pengeboman Noordin M. Top.
Pertama, bom JW Marriott I. Bom ini meledak 5 Agustus 2003 pukul 12.45 WIB. Modusnya bom bunuh diri. Hal ini dilakukan oleh Asmar Latin Sani. Dengan mengendarai mobil Toyota Kijang B 7642 ZN yang berisi bom, Asmar meletupkan diri di depan lobi JW Marriot. Sedikitnya 12 orang tewas dan 150 lainnya terluka.
Kedua, bom Kedutaan Besar Australia. Bom ini meledak tanggal 9 September 2004 pukul 10.30 WIB. Modusnya bom bunuh diri. Hal ini dilakukan Heri Kurniawan alias Heri Golun. Dengan mengendarai mobil boks Daihatsu berwarna hijau, Heri Golun meledakkan mobil berisi bom itu di pagar Kedutaan Australia di Kuningan, Jakarta Selatan. Sebanyak 11 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Ketiga, Bom Bali II. Bom ini meledak 1 Oktober 2005 pukul 19.50 WIT. Modusnya bom bunuh diri. Namun berbeda dengan dua bom sebelumnya yang menggunakan mobil, kali ini teroris menggunakan bom ransel. Sasarannya adalah kerumunan orang di Kafe Nyoman, Kafe Manega, dan Restoran Raja di Jimbaran, Bali. Pelakunya tiga orang, mereka adalah Muhammad Salik Firdaus, Misno alias Wisnu dan Ayib Hidayat. Dalam penyerangan ini, 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka.
Keempat, bom Ritz Carlton-JW Marriott. Bom ini meledak nyaris serentak tanggal 17 Juli 2009. Bom pertama meledak di Marriott pada pukul 07.45 WIB. Bom kedua meledak di Ritz Carlton pada pukul 07.47 WIB. Modusnya bom bunuh diri dengan menggunakan ransel. Dua orang pelaku belum teridentifikasi. Sebanyak 9 tewas dan 55 lainnya luka-luka.
Dalam pernyataan di internet, Noordin mengatakan pemboman Marriott didedikasikan untuk Dr Azhari bin Husin. Sedangkan bom di Ritz Carlton didedikasikan untuk tersangka teroris yang tewas di Wonosobo, yakni Gempur Budi Angkoro alias Jabir.
Dr Azahari tewas ditembak polisi dalam sebuah penggerebekan di Batu, Malang, November 2005. Sedangkan Jabir alias Gempur Budi Angkoro tewas dalam penggerebekan polisi 29 April 2006 di Wonosobo, Jawa Tengah. Anggota JI dari Madiun, sepupu Fathur Rahman Al-Ghozi, menempuh pendidikan di Ngruki 1993-1996, lulusan dan mengajar di Pesantren Darusysyahada.