VIVAnews - Bom bunuh diri meledak di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton Jakarta pada Jumat 17 Juli 2009. Ledakan tiba-tiba yang makan korban jiwa itu akan terus dikenang para karyawan hotel, bahkan bisa menimbulkan trauma.
Menurut Juru Bicara Hotel Ritz Carlton, Els Ramadhinta, para karyawan mendapatkan terapi untuk memulihkan trauma. "Kami mengadakan sesi konseling untuk karyawan. Kami sangat peduli pada mereka, bukan hanya fisik tapi juga psikologis. Anda bisa bayangkan kalau mengalami kejadian itu," kata dia, Rabu 29 Juli 2009.
Terapi, tambah Els, dilakukan sehari setelah kejadian. "Terapi berupa curhat dan motivasi dari pembimbingnya," tambah dia. Konseling dilakukan sesuai keinginan para karyawan dengan pertimbangan jadwal kerja mereka. Terapi dilakukan sampai para karyawan pulih.
Pada Senin 27 Juli 2009, manajemen juga memanggil semua karyawan. "Hanya untuk upaya memberikan motivasi pada mereka, bukan hal-hal negatif," tambah dia.
Tak hanya Ritz Carlton, 'tetangganya' JW Marriott juga mengadakan 'kelas khusus' untuk menghilangkan rasa takut para karyawan. "Ada terapi psikologis, psikiater, atau tim terapis sejenisnya," kata sumber VIVAnews dalam perbincangan di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2009.
Pemberian terapi psikologis ini ditujukan untuk semua karyawan dari setiap divisi dan departemen. Kendati demikian, pemberian terapi itu dilakukan secara bergantian.
"Bagaimana cara manage (mengatur) dan cope (menanggulangi)," kata dia lagi. Terapi psikologis itu juga termasuk memberikan pembekalan antisipasi cegah teroris kepada pimpinan hotel. "Bagaimanan mereka meng-handle para bawahan supaya kinerjanya tetap ok," singkatnya lagi.
Bom yang meledak di dua hotel mewah itu menewaskan sembilan orang dan melukai 55 lainnya di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Polri telah menyebar sketsa dua bomber.
Berdasarkan penyelidikan tim Disaster Victim Identification (DVI), ciri-ciri pelaku di JW Marriott adalah laki-laki, usia 16-17 tahun, kulit lebih putih, rambut lurus hitam dan pendek, tinggi badan 180 centimeter, dan ukuran sepatu 42-43.
Sementara pelaku di Ritz Carlton adalah laki-laki, umur kira-kira 40 tahun, kulit sawo matang, rambut lurus, pendek, dan hitam, serta tinggi 165 centimeter. Pelaku bom bunuh diri dipastikan bukan Nur Said maupun Ibrahim.