VIVAnews - Pria itu digiring ke bangsal rumah sakit. Dia masih berpakaian lengkap. Dandan seperti eksekutif. Kemeja lengan panjang putih. Celana panjang hitam. Dibalut jas dan dasi merah melintang di leher. Dia terlihat menahan sakit.
Para dokter sigap membawanya ke ruang rongten. Wajahnya meringis. Juga pucat. Di tengah hiruk-pikuk suasana Rumah Sakit Jakarta, Jumat 18 Juli itu, Bambang Trianto adalah pasien korban bom ke 15 yang digotong ke sana.
Lahir 11 Januari 1961 di Boyolali, Jawa Tengah, Bambang memulai hidupnya di Jakarta dari dunia yang keras, tentara. Dia pernah menjadi juru mesin pesawat di Angkatan udara.
Bertahun-tahun menjadi tentara, ikut latihan tempur berkali-kali, Bambang belum pernah merasakan jiwanya terancam karena ledakan bom.
Neraka bom itu mengincar jiwanya justru ketika garis nasib membawanya menjadi staf keamanan di Hotel Bintang V, JWMarriot. Dunia yang mestinya penuh harum wangi, saban hari berjas dan dasi, malah membuatnya trauma seumur hidup.
Selanjutnya baca di Sorot