VIVAnews - Nasib Kasus kematian mahasiswa Universitas Teknologi Nanyang (NTU), David Hartanto Widjaja akan diputus hari ini, Rabu 29 Juli 2009 di Pengadilan Koroner Singapura. Ayah David, Hartono Widjaja mengatakan sidang akan dimulai sekitar pukul 10.00 waktu Singapura atau pukul 09.00 WIB.
"Kami berharap ada keadilan. David sudah pasti dibunuh," kata ayah David, Hartono Widjaja ketika dihubungi VIVAnews, Rabu pagi.
Bukti-bukti yang ada, lanjut Hartono, membuat keluarga yakin sang anak bungsu meninggal secara tak wajar. "Dengan bukti-bukti yang kita punya, seperti foto kondisi David di TKP [tempat kejadian perkara] sudah bisa membuktikan," tambah dia.
Cerita-cerita atau kesaksian dari NTU, tambah Hartono, tak bisa dipakai. "Apapun putusannya tergantung pengadilan. Kalau dia tidak ada konspirasi, hakim akan memutus David dibunuh," kata Hartono, yakin.
Hari ini hakim pengadilan koroner akan memilih satu diantara tiga kemungkinan, memutus David bunuh diri, meninggal karena kecelakaan, atau penyelidikan kasus David dilanjutkan.
Sebelumnya, keluarga mengaku keberatan dengan kesaksian yang diajukan NTU, termasuk kesaksian penyidik dan profesor David, Chan Kap Luk.
Menurut kakak David, William Widjaja, para saksi menyudutkan David dan kompak menuduhnya bunuh diri. "Semua, hampir semua kesaksian di pengadilan aneh dan sudah diatur," kata kakak David, William Widjaja kepada VIVAnews.
David Hartanto Widjaja tewas terjatuh dari gedung pada 2 Maret 2009. Beberapa menit sebelumnya, mahasiswa 21 tahun itu terlihat lari keluar dari kantor dosen pembimbingnya, Chan, di tengah diskusi mereka terkait skripsi David.
Media massa Singapura lantas mengambarkan David sebagai mahasiswa yang nekat menusuk dosennya lantas bunuh diri. Media massa di sana juga memberitakan spekulasi bahwa David memutuskan bunuh diri gara-gara beasiswanya diputus.
Tentu saja, pemberitaan-pemberitaan tersebut ditolak keluarga. Keluarga justru berpendapat, David adalah korban dari tragedi ini. Kematian David semakin misterius karena disusul kematian dua staf peneliti asal China, Zhou Zheng (24) dan Hu Kunlun. Ketiganya berasal dari Universitas, bahkan jurusan yang sama.