VIVAnews - Nama Noordin M Top kembali mencuat pasca terjadinya bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton, Jumat 17 Juli 2009. Pria kelahiran Kluang, Johor itu saat ini diyakini berada di Indonesia. Noordin terkenal licin dan lihai soal melarikan diri.
Noordin Muh Top alias Noordin Mat Top alias Noordin Moch Top juga pandai menemukan lingkungan yang bisa melindunginya dari kejaran aparat.
Menurut pakar keamanan, Noordin setidaknya menikah dua kali dalam pelariannya. Dia memanfaatkan ikatan keluarga barunya sebagai tempat perlindungan sekaligus membuat jaringan pendukung untuk melindunginya. Kuatnya kekerabatan di Indonesia menguntungkan posisi Noordin.
"Dia menjalin hubungan kekeluargaan dengan jalan pernikahan, biasanya anak atau saudara dari teman dekatnya," kata salah satu penyidik teroris Indonesia seperti dimuat laman Electric New Paper, Rabu 22 Juli 2009.
Noordin yang seorang sarjana akuntansi pernah menikahi perempuan bernama Munfiatun, sehari setelah peristiwa pemboman Hotel JW Marriott pada 5 Agustus 2003. Munfiatun ditahan 2005, namun tak ada informasi apapun yang beredar soal dia.
Belakangan Noordin diyakini menikahi seorang perempuan asal Cilacap, Jawa Tengah, Ariani Rahma pada 2006. Densus 88 telah menangkap sepupu Ariani, Saefudin Zuhri, yang menurut informasi terkait jaringan teroris Noordin M Top dan berperan sebagai penyuplai senjata.
Sedangkan ayah Ariani, Baridin diduga kuat sebagai mertua Noordin M Top. Di lokasi kediaman baridin, Densus 88 menemukan sebuah jerigen yang berisi alat-alat pembuatan bahan peledak. Menurut Kepala Kepolisian, Jenderal Bambang Hendarso Danuri, bahan-bahan peledak yang digunakan untuk mengebom Marriott dan Ritz Carlton identik dengan bahan peledak yang ditemukan di Cilacap.
"Dia punya jaringan pendukung yang kuat," kata Kennethh Conboy, analis keamanan yang juga menulis buku tentang Jamaah Islamiyah. "Mereka akan tutup mulut, tak mempan sogokan, berapa pun uang yang ditawarkan," tambah Conboy.
Menurut sumber di Malaysia, Noordin menderita penyakit liver akut yang membutuhkan perawatan.
Sebelumnya, mantan Komandan Detasemen Khusus 88, Brigjen (Purn) Suryadarma Salim memperingatkan masyarakat agar tak menganggap remeh jaringan teroris yang beroperasi di Indonesia. Kata dia, mereka bukanlah taman kanak-kanak yang mudah dilacak, mereka itu dikenal sebagai orang-orang cerdas yang datang ke Indonesia untuk mendirikan agama Islam.
"Mereka ingin mendirikan Daulah Islamiyah (negara Islam di Indonesia), dan habitat mereka itu paling subur di Indonesia, dengan banyaknya mereka itu, mereka yakin dapat mendirikan agama Islam," kata Suryadharma, Selasa 21 Juli 2009.
Berita Terfavorit:
1. Mengapa Indonesia Jadi Pilihan Noordin M Top
2. Jaksa: Gerrard Seperti Petinju Profesional
3. Ronaldo Berkelit Soal Debutnya
4. Gerhana Matahari Terlama Mulai Nampak
5. Ferrara Kutuk Kelakuan Amauri