VIVAnews - Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menegaskan pengeboman di Jakarta, Jumat, 17 Juli 2009 sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam. Karena itu, tugas pemerintah untuk mengungkap dalang aksi pengeboman.
"Saya bisa menyakinkan bahwa pengeboman di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton sama sekali tidak ada kaitannya dengan islam. Ini yang penting," kata Irfan S Awwas Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Selasa 21 Juli 2009.
Sekalipun misalnya nanti yang dituduh melakukan pengeboman adalah gerakan Islam, anggota-anggota gerakan Islam, umat Islam atau mereka yang menggunakan nama Islam harus diyakinkan bahwa sama sekali tidak ada kaitannya dengan muslim.
"Saya bisa meyakinkan dengan itu karena pelakunya belum diketahui, tidak ada petunjuk-petunjuk yang menuntun analisis kita bahwa yang melakukan pengeboman adalah gerakan Islam yang punya tujuan tertentu. Ini semua masih gelap" katanya.
Lebih lanjut Irfan menyatakan, MMI sangat menyayangkan orang-orang atau para pengamat yang tergesa-gesa memberikan analisis langsung menuding kelompok gerakan islam yang melakukan pengeboman.
"Ini suatu kesalahan dari sumber-sumber yang selama ini punya otoritas untuk berbicara kaitannya dengan bom di Jakarta," tuturnya.
Menurut Irfan target pengeboman adalah hotel JW Marriott dan Ritz Carlton yang tamu adalah orang penting dari negara barat seperti
Amerika, Australia dan negara eropa lainnya adanya para pebisnis yahudi yang sering berkunjung ke hotel JW Marriott dan Ritz Carlton yang dianggap musuh bagi orang-orang yang melakukan terorisme.
"Ini tugas dari pemerintah untuk mengungkap ada apa dibalik pengeboman yang menjadi target adalah hotel yang dikunjungi oleh pebisnis yahudi,"katanya
Dengan ada pengeboman ini juga menunjukkan pemerintah tidak mampu memberikan rasa aman bagi rakyatnya. Pemerintah saat ini justru merasa terancam dengan rakyatnya.
Pemerintah telah gagal berungkali untuk memberikan hak institusional yang kebetulan negeri ini mayoritas umat islam. "Seharusnya pemerintah SBY tidak boleh merasa terancam dengan rakyatnya sendiri,"
Laporan: Kinaransih Waskita | Yogyakarta