VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mensinyalir adanya gerakan kelompok tertentu yang ingin menggagalkan pemilu. Gerakan kelompok ini berencana menduduki kantor KPU dan menargetkan SBY sebagai sasaran tembak.
Namun, berbagai kalangan menyangsikan pernyataan SBY ini. Termasuk tim sukses Mega-Prabowo maupun JK-Wiranto.
Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng menjelaskan, pernyataan presiden tersebut berdasarkan data-data intelijen. "Data intelijen A1. Tapi apakah ada kaitan dengan bom Marriott atau tidak, harus diselidiki," kata Andi Mallarangeng saat dihubungi VIVAnews melalui sambungan telepon, Sabtu 17 Juli 2009.
Andi membantah anggapan bahwa SBY telah membuat pernyataan yang terburu-buru dan tidak berdasarkan data akurat . "Pernyataan presiden itu kan data intelijen. Buru-buru disampaikan ke publik karena publik harus tahu karena terkait keselamatan presiden," kata Andi.
Terkait peristiwa bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Calrton, lanjut Andi, presiden ingin berada di depan untuk mengkoordinasi semua langkah-langkah aparat, terutama untuk mengetahui siapa pelaku, mengejar dan menghukum sesuai undang-undang yang berlaku.
"Untuk itu, walau hari libur, presiden tetap meminta laporan lamgsung pejabat terkait. Presiden sudah memberikan arahan-arahan untuk ditindaklanjuti sehingga kita bisa mengungkap mengenai teror ini dan menangkapnya," katanya.