VIVAnews - Pengamat militer Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jaleswari Pramodhawardhani menilai pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kemarin harus membuat masyarakat berpikir.
"Jangan dilihat sebagai pernyataan yang menimbulkan interpretasi berbeda," kata dia usai diskusi di Jakarta, Sabtu 18 Juli 2009.
Jaleswari merujuk pada pidato presiden mengenai ledakan bom di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott, Jumat 17 Juli 2009 pukul 07.45 WIB. Dalam insiden itu, 9 orang tewas dan lebih dari 50 orang luka-luka. Dalam pidatonya, SBY mengatakan ada pihak yang berencana melakukan kegiatan melawan hukum pasca pemilu presiden.
Ia mengatakan Indonesia seharusnya menjadikan insiden ini sebagai peringatan untuk selalu waspada pada aksi-aksi yang sama di kemudian hari. Ia menganalisa tindakan teroris adalah musuh yang nyata dan rumit. "Dia (teroris) menggunakan kelengahan dalam melancarkan aksi," kata dia.
Ketika ditanya mengenai kinerja Badan Intelijen Negara (BIN) terkait ini, Jaleswari menegaskan,"kita sudah kebobolan." Alasannya, kata Jaleswari, dunia makin mengglobal dan kejahatan transnasional harus didekati dengan cara-cara dan metode yang lebih canggih.
Ia menegaskan seluruh lapisan masyarakat tidak boleh lagi lengah dan harus berhati-hati. "Karena beberapa tahun kita tidak terkena bom, bukan berarti kita merasa tenang."