Nasional

9.000 Orang di Bali Alami Gangguan Jiwa

Jika keluarga tak sanggup mengatasi maka satu-satunya jalan adalah dengan pemasungan.

Sabtu, 11 Juli 2009, 14:35 WIB
Arry Anggadha, Wima Saraswati
  (wisatadeaf.blogspot.com)

VIVAnews - Di tengah destinasi Bali sebagai tujuan wisata dunia, justru ada kondisi yang sungguh menyedihkan. Dari data hasil survei Suryani Institute for health ditemukan bahwa ada sekitar 7.000 sampai 9.000 masyarakat di Bali mengalami gangguan jiwa.

Pada tahun 2008, kabupaten paling timur Bali yaitu Karangasem terdapat 896 orang yang mengalami gangguan jiwa. Dan untuk tahun ini jumlahnya sudah mencapai 1.500 orang ini sama saja dengan 3,5 persen dari seluruh warga Karangasem.

"Tambahan itu kita temukan di empat kecamatan di Karangasem yaitu Manggis, Rendang, Sidemen, dan Abang," kata psikiatri Prof Dr dr Luh Ketut Suryani SpKJ, saat ditemui di sela kegiatan kesehatan mental di wantilan DPRD Renon, Sabtu 11 Juli 2009.
 
Jika ini tidak segera ditangani, mereka bisa mengganggu masyarakat sekitar baik itu merusak, bahkan membunuh baik dirinya sendiri maupun orang lain. "Mereka yang bunuh diri karena gila sekitar 34,7 persen. Banyaknya halusinasi serta suara-suara aneh yang kerapkali mendorong untuk melakukan perbuatan nekat ini," jelas Suryani.

Jika keluarga sudah tak sanggup untuk mengatasi maka satu-satunya jalan adalah dengan pemasungan. sebagian besar dari mereka sudah dipasung belasan bahkan puluhan tahun.

Jelas Suryani, banyak hal yang memicu gangguan jiwa tersebut. Masyarakat yang mengalami penyakit menahun dan telah putus asa berobat ke dokter, alternatif tak juga sembuh sehingga tak lagi memiliki biaya.

Kondisi ini justru membuat prihatin negara-negara lain yang mengirimkan petisi agar badan kesehatan dunia (WHO) agar ikut memperhatikan Bali.

Penanganannya memang harus dilakukan secara berkelanjutan. "Tidak cukup sekali diberikan suntikan langsung sembuh. Dan untuk ini membutuhkan biaya tinggi," kata Suryani. Untuk menangani kasus di Karangasem saja per tahunnya belum cukup hanya digelontor Rp 1 miliar. Angka ini belum termasuk kabupaten lain.

Masyarakat harus juga diberikan pemahaman bagaimana agar dapat membantu menangani terapi termasuk juga dengan memberdayakan dokter maupun perawat yang ada di puskesmas setempat.

"Kalau puskesmas sadar dan mau membantu, mungkin jumlahnya tidak sebanyak itu," tambah dia. Bahkan beberapa dari mereka yang sudah menikah dan bisa bekerja kalau ditangani secara baik.

Laporan : Wima Saraswati | Bali



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ