VIVAnews - Sebanyak 20 juta bibit pohon kakao dipastikan belum sampai ke tangan petani. Pengadaan tersebut termasuk ke dalam Gerakan Nasional Kakao (Gernas Kakao) yang dicanangkan pemerintah pada tahun ini dan ditargetkan akan bergulir selama tiga tahun.
Untuk tahun anggaran 2009, pemerintah mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebanyak Rp 1 triliun untuk melaksanakan tiga program utama, yakni intensifikasi, rehabilitasi, dan peremajaan, di wilayah timur Indonesia, terutama Sulawesi.
Penyediaan bibit tersebut termasuk dalam program peremajaan pada lahan seluas 20 ribu hektar. Penyaluran bibit tersendat diperkirakan karena proses tender yang molor, baru dilakukan pada bulan April 2009.
"Masalah lain, harga bibit yang ditenderkan cukup mahal yakni Rp 8 ribu per pohon, sedangkan harga bibit di tingkat petani dengan teknologi sambung hanya Rp 3 ribu per pohon," kata Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Halim A Razak di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2009.
Permasalahan juga terjadi pada program rehabilitasi yang dialokasikan untuk 60 ribu hektar lahan kakao atau setara 60 juta pohon kakao tahun ini. Pelaksanaan rehabilitasi ditenderkan ke perusahaan besar swasta penyedia bibit. Padahal, seharusnya dilakukan oleh petani sendiri. Tender dilakukan dengan pagu anggaran sebesar Rp 7,5 miliar.
Rehabilitasi dilakukan melalui sambung samping dengan menempelkan mata entres pada batang pohon kakao pada ketinggian 50 cm dari tanah. Dengan rehabilitasi akan muncul tunas baru dalam waktu satu bulan dan siap dipanen dalam waktu 20 bulan.
Dengan diserahkan pada swasta, menurut Halim, akan terjadi tingkat kegagalan cukup tinggi. Perusahaan besar tidak ahli dalam melakukan sambung samping. Pekerjaan ini butuh keterampilan yang biasanya dimiliki petani. Bahkan ada potensi ketika proyek selesai, maka akan ditinggalkan begitu saja oleh swasta.
Semula, Askindo mengusulkan pemerintah melakukan penyuluhan pada petani bagaimana melakukan peremajaan. "Kalau petani sudah pintar, pemerintah tinggal membangun kebun entres (pohon yang disambung samping) di tengah-tengah kebun petani sebagai sumber entres bagi sekelilingnya," kata Halim.
Pembangunan kebun entres untuk menghasilkan pohon-pohon entres hanya membutuhkan waktu 18 bulan. "Pemerintah sepakat dengan usulan kami, sayangnya implementasinya salah. Malah disuruh swasta yang memasang mata entres dengan harga Rp 5 ribu per pohon," ujarnya. hadi.suprapto@vivanews.com
• Menurut penghitungan quick count SBY-Boediono menang. Benar atau salah? Dapatkan SMS data suara Pilpres 2009 dari tabulasi resmi KPU. Updated 2 kali per hari hingga pengumuman pada 27 Juli 2009. Ketik REG<spasi>HASIL kirim ke 9386. Hanya Rp. 1000/SMS
• Untuk mengenang kepergian Michael Jackson, aktifkan RBT Michael Jackson sekarang juga DI SINI