VIVAnews - Empat mahasiswa Indonesia di Mesir mengalami penahanan dan perlakuan tak manusiawi di Mesir sejak 28-30 Juni 2009 lalu. Peristiwa itu menimbulkan reaksi keras di dalam negeri. Namun, hari ini Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda mengatakan Indonesia batal mengirimkan nota protes ke pemerintah Mesir.
"Dua hari lalu Duta Besar Indonesia sudah diterima asisten Menteri Luar Negeri Mesir. Dalam pertemuan itu pihak kementerian sampaikan penyesalan atas peristiwa tersebut. Pemerintah Mesir juga memberikan klarifikasi," kata dia usai usai memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) I di Kompleks Menteri Widya Chandra, Jakarta, Rabu 8 Juli 2009.
Ditambahkan Hassan, pihak Mesir minta waktu dengan alasan mereka masih mengumpulkan klarifikasi dari instansi yang terkait. "Jadi [Indonesia] tak perlu kirimkan nota protes," tambah dia.
Empat mahasiswa Indonesia, Faturrahman, Arzil, Tasrih Sugandi, dan Ahmad Yunus ditangkap aparat Mesir dan harus mendekam dalam tahanan selama tiga hari, 28-30 Juni 2009.
Setelah ditangkap, mata mereka ditutup dan dibawa ke penjara. Sesampai dikantor keempat mahasiswa diinterogasi dengan kaki diikat. Bahkan kabarnya mereka sempat disentrum dan ditelanjangi.
Menurut adik Faturrahman, Raudhatul Firdaus, penangkapan berawal saat salah satu dari teman kos para korban, Ismail Nasution, ketahuan membuka situs Ikhwanul Muslimin, yang terdapat gambar Syekh Ahmad Yasin. Dia juga menempelkan gambar Syeikh Ahmad Yasin, pendiri gerakan Hamas pejuang Palestina di tembok.
Saat ini, keempatnya telah dibebaskan. Departemen Luar Negeri melalui KBRI Mesir telah meminta jaminan keamanan dan pemulihan nama baik para mahasiswa Indonesia.
"Alhamdulillah kabar kami baik-baik di sini. Terimakasih ya atas perhatian media terhadap persoalan kami," kata Ahmad Yunus, salah satu korban kepada VIVAnews, Selasa 7 Juli 2009.