VIVAnews - Pelabuhan Cilacap Jawa Tengah diidentifikasi sebagai pelabuhan yang rawan penularan virus flu babi. Sebab hampir setiap harinya ratusan warga Singapura, Australia, dan beberapa negara lain melakukan aktivitas di pelabuah itu.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Flu Babi dan Flu Burung, Daerah Istimewa Yogyakarta, dr Sumardi, hari ini, Kamis 2 Juni 2009 menegaskan, cara penularan virus flu babi tidak hanya terjadi melalui Bandara Internasional, tetapi Pelabuhan seperti di Cilacap Jawa Tengah memiliki potensi besar terhadap penularan virus H1N1.
"Meskipun tidak sebesar pelabuhan lain, namun di Cilacap, mobilitas orang dari luar negeri cukup banyak seperti orang dari Australia, Singapura dan beberapa negara lain," kata dr Sumardi di Yogyakarta, Kamis, 2 Juni 2009.
Kerawan penularan flu babi yang dibawa oleh kru awak kapal dari negara tetangga ini juga dipicu belum adanya alat pendeteksi panas (thermo scanner) yang dipasang di pelabuhan Cilacap.
Menurut dr Sumardi pemasangan thermo scanner sendiri tidak akan effektif untuk menditeksi orang yang baru saja tertular virus flu babi, karena pada hari pertama orang tertular tidak ada tanda-tanda suhu badan yang meningkat tajam diatas 38 derajat celsius.
Thermo scanner baru effektif bila suhu badan diatas 38 derajat celsius. Terkadang orang mengetahui dirinya tertular virus flu babi setelah 2 atau 3 hari dengan kondisi suhu tubuh yang panas diatas 38 derajat celsius dan memeriksakan diri ke rumah sakit.
"Penularan flu babi ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan flu burung karena penularannya sudah antar manusia dan bukannya dari hewan ke manusia," tuturnya.
Dengan gejala orang yang terjangkit virus flu babi mirip dengan flu biasa, padahal orang itu terjangkit flu babi membuat orang kurang waspada, sehingga langsung menularkan virus babi ke orang lain dalam kurun waktu yang cepat.
Laporan: Kinaransih Waskita | Yogyakarta