VIVAnews - Seorang warga sipil, Melkianus Agapa (36) tewas tertembak pistol anggota Kepolisian Nabire pada Kamis 25 Juni 2009. Pasca insiden tersebut, Nabire sontak mencekam. Warga yang marah membawa jasad Melkianus ke ke Markas Kepolisian Nabire dan meletakannya di tengah lapangan.
Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI)mengutuk dengan keras aksi penembakan warga sipil oleh aparat keamanan. "Kami minta kasus penembakan diusut tuntas demi keadilan," kata Ketua Badan Pengurus Nasional PBHI, Syamsuddin Radjab dalam rilisnya kepada VIVAnews, Jumat 26 Juni 2009.
Seperti dimuat dalam rilis PBHI, menurut pengakuan keluarga, saat kejadian Melkianus yang sedang sakit Malaria Tropicana keluar rumah. Pada saat bersamaan, aparat sedang mengejar anak-anak muda yang membuat onar di Pasar Siriwini, Nabire.
Karena pengaruh kejiwaan yang ditimbulkan penyakitnya, secara spontan Melki mengambil kunci sepeda motor polisi yang diparkir depan rumahnya. Oknum polisi dan warga yang melihat aksi Melki, lantas mengejarnya. Melki lalu diikat di tiang rumahnya lantas ditembak dengan empat butir peluru. Melki meninggal dunia pada pukul 15.00 waktu setempat.
Versi keluarga berbeda dengan Polri. Wakil Kepala Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Sulistyo Ishak mengatakan kejadian bermula saat anggota polisi melerai anak-anak muda yang melakukan aksi penganiayaan. Bukannya berhenti, mereka justru mengeroyok polisi.
"Anggota dilempari batu, bahkan dengan senjata tajam. Karena tak bisa menghindar, anggota melakukan tembakan peringatan," kata Sulistyo di Markas Besar Kepolisian, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Jumat 26 Juni 2009.
Menurut Sulistyo, apa yang dilakukan anggota polisi sesuai protap. Sebab, massa yang brutal menyerang Brigadir Satu Samad hingga mengalami robek di bagian bibir dan dagu. "Peluru tajam mengenai paha pelaku. Polisi kan boleh melumpuhkan," tambah dia. Meski demikian, kata Sulistyo, tetap ada jalur hukum yang ditempuh bagi para oknum polisi.
Penembakan pada warga sipil oleh aparat sebelumnya juga terjadi di Papua. Seorang warga Keerom, Papua, Isak Pesakot (13) tertembak di pos perbatasan RI-Papua Nugini, Senin 22 Juni lalu.
Menurut TNI, peristiwa penembakan berawal saat enam anggota Pos Satgas 725/WRG melakukan patroli kearah Kilometer 500 (Perkampungan). Lalu bertemu dengan lima warga masyarakat yang salah seorang diantaranya diduga membawa senjata.
Melihat anggota TNI berpatroli, warga tersebut melarikan diri, lalu diberikan tembakan peringatan sebanyak tiga kali, namun sama sekali tidak diindahkan. Kemudian anggota yang berpatroli menembak mereka.
Buntut dari insiden tersebut, Komandan Pomdam 17 Cenderawasih, Kolonel CPM Muhamad Gulton mengatakan, pihaknya saat ini memeriksa 6 anggota Satgas 725/WRG yang bertugas di Pos TNI Bewani Perbatasan RI-PNG