VIVAnews - Dalam masa 10 tahun reformasi tidak ada pemimpin yang memberi porsi memadai dalam anggaran pertahanan. Tetapi, kecelakaan pesawat dan helikopter militer yang banyak terjadi tidak bisa diselesaikan dengan hanya menaikkan anggaran.
"Apakah ketika nanti dinaikkan anggaran pertahanan kita lantas tak ada lagi pesawat yang jatuh? Menurut saya, minimnya anggaran bukan penyebab tunggal atas banyaknya kecelakaan pesawat TNI kita kemarin-kemarin," kata pengamat militer dari LIPI, Jaleswari Pramowardhani.
Hal itu disampaikan Jaleswari dalam diskusi "Anggaran Pertahanan dan Kedaulatan NkRI" di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 9 Juni 2009. Menurut dia, pada masa pemerintahan Soekarno, anggaran pertahanan sebesar 29 persen dari GDP (Gross Domestic Product atau Produk Domestik Bruto).
Sumber pendanaan alat utama sistem persenjataan atau alutsista, menurut Jaleswari, dititikberatkan pada kredit ekspor. Sementara, kredit ekspor ini bunganya tinggi dan menuntut pengembalian yang cepat.
"Kita tidak bisa bergantung hanya pada kredit eskpor untuk membiayai alutsista kita," kata dia. Jalan keluarnya, sudah waktunya memberdayakan badan usaha milik negara yang bergerak di industri strategis persenjataan militer, seperti PT Pindad atau PT PAL.
"Kenapa kita tak coba berdayakan dan benahi industri strategis militer kita itu dulu, daripada bergantung pada kredit ekspor," kritik wanita yang akrab disapa Dhani ini.
Selain menaikkan anggaran, variabel yang mesti diperhatikan juga menurut Dhani adalah pengembangan keahlian dan kemampuan prajurit, perawatan peralatan tempur, dan manajemen pengelolaannya.
"Kita perlu hati-hati melihat masalah ini. Jangan semata-mata menuduh bahwa minimnya anggaran pertahananlah yang menyebabkan pertahanan kita selemah ini," tegas dia. Peningkatan anggaran pertahanan, dinilai harus disertai dengan optimalisasi yang sesuai denga kebutuhan untuk memperkuat pertahanan itu sendiri.
Senin, 8 Juni 2009, helikopter militer milik TNI Angkatan Darat menabrak tebing dan jatuh di Cianjur, Jawa Barat. Tiga orang tewas dan dua lainnya mengalami luka serius.
ismoko.widjaya@vivanews.com