VIVAnews - Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas POM TNI Konga XXV-A/Unifil memperkenalkan budaya tradisi Indonesia melalui permainan 'Angklung' yang selama ini melekat di masyarakat sunda, Jawa Barat, Indonesia.
Dibawah pimpinan Letnan Kolonel Cpm Ujang Martenis menunjukan kebolehannya memainkan alat tradisional ini di hadapan seluruh kontingen yang ada di Sektor Timur (Indobatt, Spainbatt, Nepbatt, Malcon, Staff Officer Seceast dan LAF, bertempat di Markas Besar Sektor Timur Unifil "Base Miquel De Cervantes".
Di atas panggung para prajurit Satgas POM TNI tampak secara enerjik berhasil mengelaborasi kesenian angklung yang diberi sentuhan lagu daerah Sunda "Manuk Dadali", sehingga melahirkan warna musik yang tak hanya harmonis, namun juga memberi citra eksotis yang belum pernah dijumpai sebagian besar publik yang menyaksikan.
Walau diselingi lirik lagu "Manuk Dadali", namun tetap mengedepankan Angklung sebagai instrumen yang memberi corak dominan alat musik tradisional Indonesia. Keselarasan antar pemain Angklung melahirkan alunan nada yang apik dan indah, memberi titik tekan pada kebersamaan dan harmonisasi dalam setiap kali penampilan mereka.
Tak heran, sejumlah pengunjung rela berdiri di depan panggung pada saat prajurit Satgas POM TNI menampilkan performa mereka. Terlebih lagi setelah lagu "Manuk Dadali", tim kesenian Satgas POM TNI memperlihatkan kebolehannya dalam joged komando yang sudah dikreasikan dengan gerakan lain dan Angklung untuk mengiringi lagu yang sangat populer di Spanyol yaitu "Besame Mucho".
Dalam pernyataannya, Dansatgas POM TNI mengatakan bahwa Satgas telah dibekali alat musik Tradisional Angklung oleh Departemen Pariwisata dan Budaya. Dengan alat kesenian inilah, Satgas POM TNI turut berperan dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada seluruh kontingen yang tergabung dalam misi perdamaian di Lebanon (Unifil) serta kepada masyarakat Lebanon pada khususnya.
Tanpa keraguan Angklung adalah elemen khas diplomasi kultural Indonesia. Lebih dari itu, angklung juga manawarkan nilai-nilai tradisi seperti solidaritas, toleransi, persatuan, dan kerja sama dalam Angklung yang sejalan dengan ciri khas dan kekuatan kultural komunitas etnis di Indonesia. Sehingga dalam memainkannya harus benar-benar kompak agar dihasilkan nada yang enak didengar.
Dansatgas juga memperkenalkan bahwa Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu), sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.
"Asal usul terciptanya musik bambu, seperti Angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya," tuturnya.