VIVAnews – Sri Sultan Hamengku Buwono X terancam tidak mendapat dukungan dari sebagian rakyatnya apabila maju menjadi calon presiden pada Pemilihan Umum 2009. Sebab, rakyat yang tergabung dalam berbagai paguyuban mengharapkan Sri Sultan tetap menjadi pempimpin bagi wilayah Yogyakarta saja.
“Kami ngeman (sayang) Sultan. Kalau Sultan tidak bersedia nerima dicalonkan, saya salut. Tapi, kalau tetap bersedia, masyarakat bisa sakit di masa depannya,” kata Ketua Paguyuban Kepala Desa dan Perangkat Desa Yogyakarta (Ismoyo) Mulyadi, Selasa 28 Oktober 2008 kepada VIVAnews.
Salah satu kekhawatiran Mulyadi ialah apabila Sri Sultan tetap ikut bursa calon presiden, otomatis Sultan harus mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan demikian, lanjut Mulyadi, akan merusak cita-cita Rancangan Undang Undang tentang Keistimewaan Yogyakarta. “Itu yang saya sesalkan kalau Sultan mau nyapres. Mbok, ya Sultan jangan buru-buru, ngati-ati” ujar Mulyadi.
Paguyuban Ismoyo, katanya, menghendaki Sri Sultan tidak perlu menerima tawaran menjadi calon presiden. Lebih baik, kata Mulyadi, bersama rakyat memperjuangkan keistimewaan Yogyakarta.
Anggota Paguyuban Ismoyo, di antaranya tersebar di Sleman yang terdiri dari 86 kepala desa, meliputi 1.212 kepala dukuh. Di Bantul terdiri 75 kepala desa, meliputi 955 kepala dukuh. Di Gunung Kidul terdiri 144 kepala desa meliputi 1.431 kepala dukuh. Kulonprogo terdiri 88 kepala desa, meliputi 965 kepala dukuh. Data itu belum termasuk para carik.
Anggota Paguyuban Ismoyo juga tersebar disejumlah elemen masyarakat, di antaranya Paguyuban Tukang Bejak, Pedagang Kaki Lima, Paguyuban Pedagang Pasar, Paguyuban Onggo Dento, Paguyuban Warakawuri, Paguyuban Ternak, Paguyuban Warga Yogya di Jakarta. “Itu sebagian kecil elemen kami,” katanya.
Di samping itu, di Yogyakarta juga ada Paguyuban Ngeman Sultan yang sejak awal memberi masukan bagi Sultan agar mempertimbangkan niatnya menerima lamaran dari partai politik untuk maju menjadi calon presiden.
• VIVAnews