VIVAnews - Tingkat konsumsi rokok di kalangan keluarga miskin yang kian tinggi, mesti disikapi segera pemerintah dengan menerbitkan regulasi tentang Larangan Merokok.
Menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasa Moeloek, kalau tidak ada regulasi atau aturan hukum yang melarang hal itu terus terjadi, diprediksi penduduk yang miskin bertambah miskin.
"Tak hanya itu, dampaknya juga akan meningkatkan kebodohan pada anak akibat merokok pasif di dalam rumah," kata Farid yang sekaligus mewakili Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dalam diskusi Kekurangan Gizi pada Balita dan Konsumsi Rokok Keluarga Miskin, di Hotel Grand Kemang, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu, 9 Mei 2009.
Dia mengakui, menurut studi Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), sebetulnya para perokok berpotensi menderita kerugian hingga Rp 325 triliun dari gangguan kesehatan akibat rokok yang sebenarnya dapat diinvestasikan untuk gizi anak-anaknya.
"Pendapatan negara dari cukai rokok dan tembakau Rp 50 triliun. Sedangkan pengeluaran pemerintah dan masyarakat akibat risiko merokok 7,5 x Rp 50 triliun. Bayangkan, bila jumlah ini disubtitusi ke nutrisi dan gizi, kemiskinan di daerah Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku bisa diminimalisir persentasenya," kata Farid.
Farid mengakui, yang diinginkan masyarakat adalah adanya kebijakan yang bisa melarang merokok. Sebab, sejauh ini yang terdengar hanya harapan. "Jadi, kita perlu aksi, yakni pembuatan kebijakan atau regulasi, bukan semata-mata harapan," ujarnya.
Dia menambahkan, sebab yang mesti kita pikirkan adalah generasi muda sekarang ini. Setidaknya, rokok jangan sampai dikonsumsi anak-anak atau orang berusia di bawah 20 thn. "Secara eksplisit, anak-anak yang merokok perlu ada reaksi hukum," kata Farid.
Pihaknya menyambut baik inisiatif Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan rokok, karena fatwa itu dikeluarkan berangkat dari dampak rokok yang memprihatinkan, apalagi untuk anak-anak dan keluarga miskin.
Farid kembali menuturkan, rokok dapat menyebabkan kemiskinan, kemiskinan membuat manusia tak sanggup memenuhi nutrisi yang akibatnya terjadi kekurangan gizi. Di samping itu, bisa menyebabkan kematian anak dan kelahiran prematur bagi ibu perokok aktif. "Hasilnya, lost generation. Ini semua bagaikan lingkaran setan," ujarnya.
Dia menambahkan, roadmap menuju hilangnya sebuah generasi dimulai dari rokok, kemudian penggunaan narkotik. Lalu berpotensi pada sexual behavior, terjangkitnya penyakit AIDs, dan penyakit mematikan lain. Hal itu bisa diperburuk lagi dengan kemiskinan dan kebodohan yang berakibat hancurnya ekonomi keluarga dan hilangnya generasi bangsa.
"Saya sedih ketika mendengar salah satu statement industri rokok, yang mengatakan remaja hari ini adalah pelanggan tetap yang potensial untuk hari esok," kata Farid.