VIVAnews - Keluarga mahasiswa Universitas Nanyang Singapura, David Hartanto Widjaja akan kembali melaporkan kejanggalan kematian David ke Markas Besar Kepolisian siang ini, Senin 30 Maret 2009.
"Laporan akan kami ajukan pukul 13.00 atau 14.00," kata ayah David, Hartanto Widjaja kepada VIVAnews, pagi ini.
Kedatangan keluarga David hari ini ke markas besar adalah kali keduanya. Pada Sabtu, 28 Maret 2009, keluarga telah mendatangi markas besar. Namun, mereka terpaksa balik kanan karena saat itu markas besar libur dan tak bisa menerima laporan.
Menurut Hartanto, dalam laporannya keluarga akan melampirkan berkas-berkas berisi tulisan maupun gambar. "Tulisan-tulisan atau gambar saya dapatkan selama di Singapura untuk melihat kondisi anak saya, termasuk dari media," kata Hartanto. Berkas-berkas itu disimpan dalam bentuk disk.
Sebelumnya, kakak David, William Widjaja, mengatakan keluarga terpaksa mengambil gambar-gambar dari media sebagai bukti. "Misalnya bagian belakang jenazah David yang berdarah, bagaimana lagi, jangankan mengambil gambar, keluarga tak diizinkan melihat jenazah David secara keseluruhan," kata dia kepada VIVAnews.
William mengatakan laporan ke markas besar bertujuan agar polisi Indonesia berpartisipasi dalam penyelidikan kasus kematian David, yang saat ini hanya ditangani kepolisian Indonesia. "Kami melihat ada banyak kejanggalan," kata William.
David yang mahasiswa tingkat akhir Universitas Nanyang Singapura ditemukan tewas terjatuh dari loteng. Menurut sejumlah media Singapura, David bunuh diri usai menusuk dosen pembimbingnya Senin 2 Maret 2009. Usai tragedi penusukan, korban yang dosen di Universitas Nanyang, Singapura, Chan Kap Luk (45) dilarikan di Rumah Sakit Universitas Nasional Singapura. Beda nasib, sang profesor saat ini masih hidup dan kondisinya membaik.
Tak ada yang tahu apa yang menyebabkan David terjatuh dari loteng fakultas, sama halnya tak ada yang bisa menebak apa yang sesungguhnya terjadi di ruang sang profesor ketika insiden penusukan terjadi. Polisi Singapura masih menyelidiki kasus ini. Penyelidikan polisi butuh waktu sekitar enam bulan. Sedangkan hasil otopsi, pemerintah Singapura menjanjikan bisa keluar sebulan setelah peristiwa terjadi, yakni pada 2 April 2009.