VIVAnews – Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution, mengatakan kerusuhan di Lapas Kelas IIA Kerobokan Denpasar, Bali, adalah karena jumlah narapidana yang ada lapas itu sudah melebihi kapasitas. Lapas yang dirancang untuk 300 napi ternyata dihuni oleh 1.030 orang.
Kerusuhan di Lapas Kerobokan berawal Selasa malam sekitar pukul 23.00 WIB ketika terjadi perkelahian antarnapi. Dalam peristiwa itu, salah seorang napi ditusuk. Kemudian saat korban mencari barang bukti pisau yang digunakan, petugas jaga mengatakan tidak tahu di mana pisau itu.
Hal itu membuat korban tidak puas. Ia lalu memprovokasi teman-temannya yang lain. “Sehingga pintu depan dijebol, kemudian mereka membakar ruang registrasi, ruang Kepala Lapas, dan merengsek ke ruang gudang senjata,” kata Saud di Mabes Polri, Rabu 22 Februari 2012.
“Untungnya semua senjata sudah dikeluarkan oleh petugas lapas, sehingga senjata aman,” imbuh Saud. Saat ini situasi di lokasi kejadian sudah bisa dikendalikan. Namun tiga orang napi menjadi korban akibat pembakaran dan kerusuhan tersebut.
Tiga orang napi yang menjadi korban luka itu yaitu RE, 21 tahun asal Banyuwangi yang mengalami luka tembak pada kaki kanan; S, 34 tahun asal Jember yang mengalami luka tusuk pada tangan kanan; dan NT, 33 tahun asal Badung yang mengalami luka lecet.
Setelah situasi lapas dapat dikendalikan, ujar Saud, aparat kepolisian di lapangan beserta petugas lapas dan pemda mencoba berdialog dengan napi.
Tuntutan Napi
Saud menjelaskan dari hasil dialog tersebut, para napi menuntut sejumlah hal. Pertama, agar semua napi yang ada di lapas diperlakukan dengan adil. Kedua, agar Kepala Lapas Kerobokan diganti. “Karena penyebab timbulnya pertikaian atau kerusuhan adalah kebijakan Kalapas yang tidak adil,” kata Saud.
Ketiga, napi meminta sistem pembinaan di Lapas Kerobokan dibenahi. “Menurut para napi, pembinaan di sana sudah tidak relevan,” tutur Saud.
Polda Bali saat ini sedang menangani kasus kerusuhan di Lapas Kerobokan dalam rangka memproses pelaku, khususnya bagi mereka yang membakar lapas dan memprovokasi. (ren)