Nasional

Kisah Armayeh, TKW Penuh Luka Sekujur Tubuh

"Saya minta dengan sangat supaya majikan yang menganiaya saya itu dihukum berat."

Kamis, 16 Februari 2012, 07:17 WIB
Elin Yunita Kristanti, Aceng Mukaram (Pontianak)
TKW terlantar di Jeddah, Arab Saudi (ANTARA/SAPTONO)

VIVAnews -- Pergi ke Madinah, Arab Saudi dengan harapan selangit, justru siksaan yang didapat Armayeh binti Sayuri. Sekujur tubuh penuh bekas luka lepuhan, termasuk di wajahnya. Cuping telinganya kini bahkan tak lagi berbentuk, gara-gara disiram air panas majikannya, Hana Hasyim Ahmad.

Kabar kejadian tragis yang menimpa perempuan asal Kalimantan Barat itu sebelumnya datang dari Kementerian Luar Negeri, yang heran mengapa Armayeh tak menuntut hukuman qisas. Kasus akhirnya diproses perdata, pelaku hanya akan membayar biaya kompensasi.

Ditemui di rumahnya di Jalan Teluk Lerang, Dusun Karya Bersama Desa, Kabupaten Kubu Raya, Armayeh mengaku, secara hukum, ia terjebak.

"Waktu itu saya maafin majikan. Karena saya nggak tahu proses hukum di sana  seperti apa," kata dia kepada VIVAnews.com.

Apalagi, dia menambahkan, saat itu belum ada yang membimbingnya. "Jadi saya nggak tahu mau berbuat apa. Sempat takut saja waktu itu nggak dipulangkan ke Indonesia. Karena saya sudah nggak tahan disiksa terus-terusan oleh majikan," kata dia.

Armayeh mengaku sempat menandatangani surat, semacam perjanjian. "Tapi sama orang KJRI Jeddah (kasus) dituntut kembali. Pernah menjalani sidang satu kali di Pengadilan Madinah pada tahun 2011," ungkap Armayeh dengan tatapan kosong, sambil sesekali
memegang bekas luka pukulan botol di kepalanya.

Saat itu, ia menceritakan, beberapa kali keluarga majikannya datang untuk meminta kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan alias damai. Ia mengaku, awalnya, tidak serta merta menerima ajakan upaya damai itu. Sebab, tak ada yang bisa menggantikan derita tak terperi yang ia alami.

"Keluarga majikan datang mengajak balik ke rumah dia untuk bekerja lagi. Tapi saya nggak mau. Majikan bilang ke saya, kalau maafin majikan dan nggak nuntut secara hukum, mau dikasih gaji selama 2 tahun. Juga hadiah," urai perempuan 21 tahun itu.

Ada juga keluarga majikan membawa uang dan tiket untuk pulang ke Indonesia. Namun, janji itu semua palsu. Hingga saat ini ia tak pernah mendapatkan apa-apa dari sang keluarga majikan. “Sampai sekarang pun uang kompensasi yang katanya mau diberikan itu tidak ada sama sekali. Yang memulangkan saya pun orang KJRI Jeddah," kata dia.

Kini, Armayeh berharap keadilan. Agar penyiksaan yang ia alami sejak 2009 lalu diproses hukum. "Saya minta  dengan sangat supaya majikan yang menganiaya saya itu dihukum seberat-beratnya," kata dia, geram.

Putus sekolah sebelum jadi TKW

Keterbatasan ekonomilah yang menjadi alasan kenapa Armayeh jadi TKW di Arab Saudi. Selain itu  juga, ia mengaku ingin membantu kedua orang tua di kampung.  Ia hanya mengenyam pedidikan Kelas dua SMA swasta di Kecamatan Ambawang Kabupaten Kubu Raya kala itu.
 
Himpitan ekonomi yang terpaksa kedua orang tuanya tak mampu membayar biaya sekolah Armayeh. Ia mengakui, sejak SD pun ia terbiasa membayar biaya sekolahnya dengan hasil keringatnya. Dengan bekerja menoreh getah di kampungnya  dari jam 03.00 subuh sampai jam 05.00 subuh.

Menginjak bangku SMA kelas dua, biaya sekolah pun semakin tinggi. Maka ia pun akhirnya keluar sekolah.  "Saya berangkat  jadi TKW di Arab Saudi karena orang tua saya sudah nggak mampu lagi biaya sekolah saya."

Bulan Februari 2009, ia ke Jakarta dan ketemu sebuah agen untuk memberangkatkan ke Arab Saudi. Tiga bulan pertama, ia bekerja dengan tenang. Menurut Armayeh,  siksaan ia dapatkan saat saat bekerja di rumah putri majikannya. Hana Hasyim Ahmad, nama putri majikan, kerap memukulnya, menginjak, bahkan tanpa ampun, menyiramnya dengan air panas.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
mickymouse
21/02/2012
INI YG NYIKSA TEMENNYA FPI, SATU SAUDARA. JADI FPI MAH DIAM AJA, MASA NERIAKIN SAUDARA SENDIRI. SAMA2 TIMUR TENGAH. FPI BOKAP LOE TUH NYIKSA TKI .
Balas   • Laporkan
bobdarren
16/02/2012
Kemana perginya Yang Mulia Menteri Tenaga Kerja kita? Ngga pernah nongol kalau ada tenaga kerja yg sengsara seperti ini..
Balas   • Laporkan
jahilsos
16/02/2012
lihat apa yang dilakukan bangsa setan terhadap bangsa kita, mana FPI, KENAPA lo diam atau .......?
Balas   • Laporkan
brig11
16/02/2012
Karena si budaya Araab itu menganggap tkw itu seperti budak, boleh disiksa dan diperkosa - gak ada namanya 'budak' itu bisa tuntut balik ke majikan.
Balas   • Laporkan
cahdonan
16/02/2012
sama2 babu jd gue ngerti bgt penderitaan mreka........
Balas   • Laporkan
nasyifa
16/02/2012
jadi tkw tuh harus tegas klo disiksa...siksa aja balik...enak aja mentang2 jd pembantu koq tidak dimanusiakan...orang sifatnya harus dilawan sebelum dia kelewatan..bagi para tkw bekali diri dgn kekuatan dan kesiapan mental...
Balas   • Laporkan
kelabanghijau
16/02/2012
Ane lg sibuk ngurusin pembubaran nich, ane sich pasti butuh uang, makanya ane suruh anak2 beroperasi di daerah kota Mangga Besar. urusan TKW gak ada uangnya dan lagipula ane bisa di stop donasinya dari leluhur ane...wkwkwk
Balas   • Laporkan
kurupukteuas
16/02/2012
Sudah terbukti ratusan hingga ribuan kali bahwasanya TKW di luar sana tidak ada perlindungan hukum yg jelas, jangankan di luar sana di dalam negeri pun hukum indonesia itu cacad..!! harus bagai mana lagi supaya TKW terlindungi hak2nya di sana.??
Balas   • Laporkan
murai | 16/02/2012 | Laporkan
dilindungi sebaik apapun kalau majikannya jahat. tanpa dilindungi kalau majikannya baik. arab arab oh arab.... terlalu arab.....
robsum
16/02/2012
Negara nenek moyangnya m nazarudin, m nasir, m hasyim.
Balas   • Laporkan
murai | 16/02/2012 | Laporkan
awas...!!! arabisasi masuk Indonesia. waspadai itu...!!! TOLAK ARABISASI
robsum | 16/02/2012 | Laporkan
oh iya ada lagi, nenek moyangnya habib rizieg, abu bakar baasyir, abdullah sungkar dll
iskandar.lukman
16/02/2012
Kemenlu seharusnya memfasilitasi TKI yg ingin menuntut keadilan berdasarkan hukum di Arab Saudi
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ