Nasional

DPR: Kemahalan, Pesawat Presiden Anti Peluru?

Komisi I DPR mempertanyakan efektivitas interior pesawat dan alat keamanan pesawat.

Sabtu, 11 Februari 2012, 00:22 WIB
Syahid Latif, Iwan Kurniawan
Pesawat Kepresidenan Boeing Business Jet 2 (Sekretariat Negara)

VIVAnews - Komisi I DPR mempertanyakan biaya interior dan alat keamanan pesawat kepresidenan yang dinilai terlalu mahal, bahkan mendekati harga badan pesawat. DPR juga mempertanyakan apakah fungsi kelengkapan pesawat kepresidenan sudah memperhitungkan efektivitas dan efisiensi.

Anggota Komisi I DPR, Tjahyo Kumolo menjelaskan, pembelian pesawat kepresidenan tidak dapat dibatalkan, karena telah disetujui oleh DPR periode 2004-2009 dan pesawatnya pun telah jadi.

"Pembelian pesawat cukup bisa dipahami, tapi yang jadi pertanyaan teman-teman Komisi I, biaya renovasi interior itu kok hampir sama dengan harga pesawat," kata Tjahyo di Jakarta, Jumat, 10 Februari 2012.

Seperti diketahui, pemerintah telah melunasi biaya pembelian pesawat RI 1 buatan Boeing jenis Boeing Business Jet 2 Green Aircraft seharga US$91,2 juta atau Rp850 miliar. Rinciannya, sebesar US$58,6 juta untuk badan pesawat, US$27 juta interior kabin, US$4,5 juta sistem keamanan, dan US$1,1 juta untuk biaya administrasi.

Dengan demikian, harga badan pesawat dibandingkan interior kabin dan sistem keamanan sebesar 53,75 persen. Sementara itu, harga interior dan alat keamanan dibandingkan dengan keseluruhan harga pesawat sebesar 34,5 persen. "Kalau perbedaannya hanya 20-30 persen sih ok," kata Tjahyo.

Untuk itu, Komisi I mempertanyakan efektivitas interior pesawat dan alat keamanan pesawat. "Kalau harganya mahal, apa anti peluru, anti petir, anti angin, ini menyangkut efektivitas dan efisiensi," kata Tjahyo. "Ibarat, rumahnya sudah dibeli, isi interior hampir sama dengan harga rumah, ini kan jadi pertanyaan." (art)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
tai_katak
12/02/2012
Yg pntngnya pswat ini juga dpke utk knjngan ke L.N tdk mslh krna biaya knjngan prsden dlm dn L.N ckup tnggi. Soalnya yg prgi satu r.w.brp biaya yg hrs dklrkan. Dp ruang bnggr dn krsi rpt yg hrgnya mhal hnya dpke ngbrl dn tdr anggta dwan??????
Balas   • Laporkan
pyrosina
12/02/2012
Sentimen sama PDIP?? bicara fakta jaman PDIP utang kita 1.200 T itu warisan jaman ORBA, di perintah SBY utang jadi 2.000 T. jangan asal nguap loe
Balas   • Laporkan
pembela
12/02/2012
besok kalo sijoko ini jadi RI 1 rakyat akan menyumbang barasut anti peluru..nanti si joko ini kalo mau turun pesawat di lempar keluar dari atas biar dia tenjun sendiri..atau besok kalo jadi ri 1 kita belikan sepeda butut kepresidenan..bayak omong lu joko.
Balas   • Laporkan
wibowodh
12/02/2012
IYA RAKYAT INDONESIA JUGA MAU PATUNGAN BELI PESAWAT SUKOI BUAT HANCURIN GEDUNG WAKIL RAKYAT DAN BUAT NGEBOM MULUT MULUT POLITISI YANG BUSUK BUBARKAN DPR MEREKA BANYAK BACOOOT AJA
Balas   • Laporkan
mickymouse
11/02/2012
ANDAI PRESIDEN KITA DIPILIH DARI BEKAS PELAWAK PASTI RAKYATNYA SENENG SOALE ISA DIAJAK DAGELAN TERUS, DARIPADA SEKARANG BUKAN DARI PELAWAK TP JUGA SUKA DAGELAN TAPI SAYANG NGGAK LUCU.
Balas   • Laporkan
oli_xxx
11/02/2012
thn 2014 jika PDIP memenangkan pemilihan presiden, apa lagi yg mau di jual ? BUMN mana yg mau dijual lagi ? Perkebunan ? atau Pertamina ?
Balas   • Laporkan
cimoy
11/02/2012
Mari kita berdoa kepada para DPR ini. semoga kelak diampuni segala khilafnya. Mereka merasa, makin banyak bicara makin keren. Huf...kapan tobat ya...
Balas   • Laporkan
dhe2n74
11/02/2012
POLITIK emg hrs byk omong kali ye?.. semakin byk POLITIKUS bicara=byk juga maksud dan tujuannya demi dirinya juga PARTAInya
Balas   • Laporkan
woro-lanang
11/02/2012
PDIP kan yang penting...tolak dulu... mau bener apa nggak ...rekatif & provokatif...
Balas   • Laporkan
Pinter yaa DPR...sekarang giliran pesawat presiden yang di soroti,.... kemarin mereka tuh yang banyak di soroti atas biaya kursi'' impor yang harganya selangit ( ga ada manfaatnya buat rakyat, dan apa mungkin bisa meningkatkan kinerja mereka?)
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ