Nasional

SBY: Pandai Memanen, Harus Pandai Menanam

Indonesia memiliki potensi cukup besar di bidang pertanian dan perikanan.

Jum'at, 10 Februari 2012, 20:12 WIB
Mutia Nugraheni, BRY (Jambi)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (VIVAnews/Tudji Martudji)

VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono, dalam rangkaian kunjungan kerjanya saat memperingati puncak Hari Pers Nasional, di Jambi, berkesempatan melakukan panen ikan Patin. Panen dilakukan di kawasan Minapoli Desa Pudak, Kecamatan Kumpehulu, Kabupaten Muarojambi, Jambi pada Jumat, 10 Februari 2012.

Pada kesempatan itu, SBY dan Ibu Negara langsung mengambil ikan Patin yang merupakan milik Kelompok Tani Tunas baru, Desa Pudak. Ia berkali-kali menangkap ikan Patin di kolam dengan menggunakan jala sembari  tersenyum.

“Ini bukti dari hasil kerja keras. Indonesia memiliki potensi cukup besar di bidang pertanian dan perikanan. Bila dimanfaatkan dengan baik, niscaya akan membuahkan hasil yang diharapkan,” kata SBY.

Ia juga menekankan agar masyarakat sekitar memanfaatkan secara maksimal potensi yang ada. SBY berharap warga mau bekerja keras dalam menanam.

“Seharusnya, jika pandai memanen harus pula pandai menanam" ujarnya.

Timan (54), Ketua Kelompok Tani Tunas Baru, Desa Pudak, menjelaskan, ikan Patin yang dipanen Presiden ini sudah berumur tujuh bulan, dengan memiliki berat rata-rata 0,9 hingga 1 kilogram. Satu kolam yang dipanen menghasilkan sekitar 3,5 ton.

Terdapat 63 orang dalam kelompok Tani Tunas Baru ini. Sementara itu, di desa Pudak ini, terdapat enam kelompok tani, dengan jumlah kolam mencapai 630 unit.

Warga Pudak mulai membuka usaha ini sejak 2004, dengan menanam berbagai jenis ikan. Seperti Patin, Nila, Gurami dan Ikan Mas. “Kami di sini tidak hanya mengelola kolam ikan, tapi juga bertanam padi,” ujarnya.

Para petani ikan di daerah ini, menurut Timan, memberi pakan ternak ikannya dari hasil buatan sendiri. Yaitu, dengan memanfaatkan limbah sekitar, seperti bahan dasar dedak (kulit padi), ikan rucah, poles (dedak halus), dan bongkol kelapa.

Hasil panen warga setempat, sebagian besar memenuhi kebutuhan pasar lokal. Selebihnya, dijual ke beberapa daerah provinsi tetangga, seperti Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. (art)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
kocan
11/02/2012
nggak kebalik om. menanam dulu baru memanen,lagian om belajar akting dimana? seperti musang berbulu domba.
Balas   • Laporkan
800215422207
10/02/2012
Si bapak ga malu ngomong gitu didepan petani. Dimana2 dia tindas petani,import gula,import garam,kentang,sayur mayur,harga pupuk mahal,import beras,permainan harga gabah dll. Si bapak,pandai ngomong,pandai mengingkari..
Balas   • Laporkan
thagut
10/02/2012
Ngomong apa sih om?? bukan nye petani nya di musuhi? di hajar produk inmpor terus,belum lagi ama mafia pupuknya....payah
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ