VIVAnews - Tak cukup hanya memakai batik setiap hari Jumat. Walikota, Solo Joko Widodo mengeluarkan kebijakan busana tradisional daerah menjadi seragam resmi kalangan pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Kota Solo. Pakaian jawa teradisional tersebut wajib dikenakan setiap hari Kamis.
"Untuk laki-laki mengenakan pakaian beskap landung lengkap dengan jarik sogan coklat. Sedangkan yang perempuan memakai kebaya Jawa dengan kuthu baru," kata Jokowi sapaan akrab Walikota Solo kepada VIVAnews.com, Kamis, 9 Februari 2012.
Penggunaan seragam pakaian tradisional merupakan sebuah gebrakan baru untuk memperkuat identitas dan karakter kota Solo. "Yah, ini merupakan wujud dari berkepribadian dalam berkebudayaan," ujarnya.
Lebih lanjut Jokowi mengatakan alasan dipakainya busana tradisional sebagai seragam dinas adalah untuk melestarikan budaya tradisional supaya tidak hilang.
"Kimono di Jepang sudah mulai sulit ditemukan di kalangan anak muda karena pemakainnya sulit. Oleh sebab itu, kita ingin menyederhanakan pemakaian busana tradisional Jawa yang sulit tanpa meninggalkan unsur budayanya," terang dia.
Kedepannya tidak hanya pegawai Pemkot Solo yang memakai seragam busana tradisional namun akan dikenakan oleh siswa sekolah dari SD hingga SMA. "Hari ini kan baru ujicoba dan yang memakai busana tradisional itu baru saya dan pak wakil walikota. Masak sih pemimpin nggak memberi contoh dulu. Nanti, Kamis pekan depan semua pegawai sudah memakai seragam ini," tuturnya.
Selain melestarikan busana tradisional, kebijakan tersebut juga akan menghidupkan lagi industri kreatif berbasis kebudayaan. " Apalagi nanti jika siswa sudah memakai busana tradisional pastinya industri kecil itu akan semakin tumbuh karena banyak pesanan," kata Jokowi.