VIVAnews - Kelompok akademisi Yogyakarta menyatakan dukungan mereka kepada Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, untuk menjadi calon Presiden pada Pemilu 2014 mendatang. Dukungan dari kelompok yang mengklaim sebagai pelaku sejarah reformasi 1998 ini disuarakan dalam diskusi "Refleksi Reformasi 98" di Yogyakarta, Jum'at malam 6 Desember 2011.
Diskusi yang dimoderatori Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Edy Suandi Hamid itu diawali nostalgia tentang heroisme gerakan reformasi 1998. Namun, di pertengahan hingga penghujung diskusi, pembicaraan mengerucut pada pernyataan para peserta forum yang mendukung Mahfud MD agar maju ke pentas pemilihan orang nomor wahid di republik ini.
Hadir sebagai pembicara yaitu Mohtar Masoed, pakar politik UGM; Refrison Baswir, ekonom dan Direktur Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM; Malik Madani, pengurus PBNU, dan sejumlah akademisi dan aktivis kampus Yogyakarta lainnya.
Mahyudin Al Mudra, Direktur Melayu Online, misalnya menyampaikan situasi negara yang kini semakin carut marut. Karena itu, ia bahkan menilai perlu ada perubahan kepemimpinan yang segera. "Menunggu 2014 terlalu lama, saya ingin pemimpin baru sebelum 2014. Kalau ada Pak Mahfud MD yang berani kenapa tidak," ujarnya, berapi-api.
Hal senada diutarakan oleh Wakil Rektor II Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Purnawan Hardiyanto, "Saya minta Pak Mahfud MD untuk maju menjadi calon presiden," katanya.
Rusli Muhammad, Dekan Fakultas Hukum UII Yogyakarta, menambahkan, "Di tengah situasi bangsa yang sudah kacau saat ini, kami menginginkan kepemimpinan yang baru di masa datang, yaitu Pak Mahfud MD."
Mohtar Masoed, pakar politik UGM, memaparkan dalam sejarah demokrasi Indonesia modern, isinya adalah fragmentasi kelompok. "Saya rasa politisi sekarang kalau berbicara atau berpendapat isinya hanya menendang orang lain. Itu yang tidak sempat direformasi," dia mengritik.
Refrison Baswir, Direktur Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, mengecam sistem ekonomi nasional yang dia nilai sangat neoliberal dan sarat dengan jual-beli pasal di DPR, dan intervensi modal asing. Dia mengingatkan pada 12 Januari 2012 mendatang akan ada aksi akbar di Jakarta yang ditujukan untuk menurunkan Presiden SBY.
Menanggapi dukungan terhadap dirinya, Mahfud MD menuturkan, "Saya agak kikuk ketika saya disebut-sebut agar maju menjadi presiden."
Mahfud menyampaikan perlu ada sistem rekrutmen politik terbuka di republik ini. Selama ini, kata dia, sistem rekrutmen politik kita sangat tertutup. "Karena sistem yang tertutup itu, ibarat keluar dari mulut macan masuk mulut harimau. Sama saja," katanya.
Mahfud mengatakan dia tidak bisa membayangkan apa yang bisa dia kerjakan jika menjadi presiden. "Saya tidak bisa membayangkan apa yang bisa saya kerjakan ketika saya masuk ke sana (istana). Bagaimana saya bisa melakukan semuanya, seperti memikirkan sistem pertahanan negara, hubungan dengan dunia Internasional, ekonomi nasional, dan lainnya. Memang, semua bisa dilakukan karena ada ahlinya masing-masing," katanya. (Laporan: Erick Tanjung, Yogyakarta | kd)