Nasional

Ribka: Kenapa Jasad TKI Yuyun Penuh Pasir?

Ketua Komisi IX DPR itu menilai ada kejanggalan pada kematian TKI Yuyun.

Jum'at, 30 Desember 2011, 14:42 WIB
Anggi Kusumadewi
Jasad TKI Yuyun (Permadhi| Sukabumi)

VIVAnews – Ketua Komisi IX DPR RI, Ribka Tjiptaning, menilai ada kejanggalan pada kondisi jenazah Yuningsih binti Mahpud (Yuyun), Tenaga Kerja Indonesia asal Sukabumi yang bekerja di Yordania selama dua tahun dan tewas setibanya di Indonesia.

Ribka pun mengatakan, Komisi IX DPR yang membidangi ketenagakerjaan akan menelusuri dan menyelidiki latar belakang kematian Yuyun. “Jujur saja, saya penasaran. Sebab secara logika, jika Yuyun meninggal di rumah sakit, seharusnya jenazahnya dalam kondisi layak atau bersih. Tapi kenyataannya, jasadnya dipenuhi tanah dan pasir,” kata Ribka saat mengunjungi keluarga almarhum di Kampung Gentong Pasir, Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja, Sukabumi, Jumat 30 Desember 2011.

“Kami akan memanggil Kemenakertrans dan BNP2TKI untuk meminta keterangan mereka,” ujar politisi PDIP itu. Sebelumnya, Perwakilan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Fitroh Anggoro menjelaskan kronologis kematian Yuyun sesaat sebelum pemakamannya, tengah malam tadi.

Menurutnya, Yuyun meninggal tanggal 28 Desember 2011 di RS Polri Kramat Jati, Jakarta, setelah dirawat sejak tanggal 22 Desember 2011 di RS tersebut. “Almarhum tiba di BNP2TKI Selapanjang tanggal 22 Desember 2011, setelah diserahkan oleh perwakilan Kemenakertrans,” kata Fitroh.

Ia mengatakan, saat diterima di BNP2TKI, almarhum Yuyun berada dalam kondisi depresi sehingga langsung dirujuk ke RS Polri Kramat Jati. RS ini memang menjadi rujukan utama pemerintah dan BNP2TKI dalam menangani TKI. “Almarhum dirawat selama 6 hari, hingga dikabarkan meningal. Ini laporan yang kami (BNP2TKI) terima,” papar Fitroh.

Menyambung keterangan Fitroh, perwakilan Kemenakertrans Oscar Abdulracman menjelaskan, almarhum Yuyun berangkat dari shelter Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Aman, Yordania pada tanggal 21 Desember 2011, dan tiba di Indonesia tanggal 22 Desember 2011.

“Saya yang membawa almarhum bersama 53 TKI lain yang bermasalah di Yordania. Secara fisik, saat tiba di Indonesia almarhum dalam keadaan sehat. Almarhum bahkan sempat minta tolong kami untuk mengamankan barang pribadi miliknya yang dibawa dari Aman,” imbuh Oscar.

Saat itu, papar Oscar, ada 3 TKI yang mengalami depresi dalam kloter pemulangan tersebut, termasuk Yuyun. “Mereka sudah depresi sejak dibawa dari shelter Aman, Yordania. Salah satunya almarhumah Yuyun,” kata dia. Oscar menegaskan, dirinya baru mengetahui kabar kematian Yuyun dari atasannya yang dihubungi RS Polri Kramat Jati.

Kakak almarhum, Junaidi, mengatakan kepada Ribka bahwa Yuyun dikembalikan kepada keluarga dalam kondisi tidak layak. Tubuh Yuyun dipenuhi luka memar dan tak berbalut busana sedikit pun. Kematian Yuyun ini, kata Ribka, menambah panjang daftar kasus yang menimpa TKI.

Sepanjang tahun 2011, Komisi IX DPR mencatat puluhan kasus yang melibatkan TKI di luar negeri. Kebanyakan kasus itu terjadi di negara-negara Timur Tengah. Oleh karena itu, DPR meminta pemerintah untuk meneruskan moratorium (penghentian sementara) pengiriman TKI ke Timur Tengah. “Saya siap menerima kecaman dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan kebijakan moratorium ini. Tidak sedikit TKI yang mengalami nasib mengenaskan selama bekerja di sana,” kata Ribka.

Ia juga menyoroti soal dana asuransi TKI yang jumlahnya mencapai triliunan rupiah. Sejauh ini, ungkap Ribka, ada indikasi dana tersebut tidak sampai kepada para TKI. Padahal dana asuransi itu untuk tunjangan kematian serta dana pengobatan TKI yang bersangkutan. (eh)

Laporan: Permadhi | Sukabumi



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
nandasayank
30/12/2011
keamanan di indo,,,jan wes makin PARAHHHHHHHHHHHHH
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ