Nasional

Pengamatan Gunung Tambora Tertutup Kabut

Kawah Doro Afi Toi yang kini aktif terbentuk akibat letusan dahsyat Tambora tahun 1815.

Senin, 12 September 2011, 14:21 WIB
Elin Yunita Kristanti
Foto gunung Tambora bidikan NASA (nasa.gov)

VIVAnews -- Gunung Tambora hingga saat ini masih berstatus Siaga atau level III. Kepala Bidang Geologi dan Sumberdaya Mineral Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Barat, Muhammaddun mengatakan, hingga tanggal 12 September kondisi kegempaan Tambora masih sama dengan hasil pengamatan visual pada tanggal 7 September. Di mana terekam 32 kali gempa vulkanik dalam rentang waktu 6 jam.

Dinas Pertambangan dan Energi NTB masih terus berkoordinasi dengan petugas pengamat gunung api Tambora di Doropeti, Kecamatan Pekat.

Sementara, informasi yang diperoleh dari kepala pengamat gunungapi Tambora, Abdul Haris, frekuensi aktivitas Gunung Tambora terutama di Kawah Doro Afi Toi masih belum tampak secara visual. "Pengamatan secara visual masih belum tampak karena tertutup kabut," kata Abdul Haris yang dihubungi VIVAnews dari Mataram, Senin 12 September 2011.

Terkait peningkatan status dari waspada level II menjadi siaga level III itu, maka kawasan rawan bencana yang berada di radius 3 kilometer dari pusat gunung api sudah dikosongkan. Artinya tidak ada aktivitas masyarakat baik yang mencari kayu maupun yang berwisata.
 
Abdul Haris mengatakan saat ini situasi keamanan masyarakat yang bermukim di Kecamatan Pekat masih kondusif. Masyarakat diminta tidak panik apalagi mengungsi ke tempat lain. Meskipun statusnya meningkat, hingga saat ini kawah Doro Afi Toi tidak menyemburkan material apapun. "Jadi masyarakat diminta tidak terpengaruh dengan informasi yang tidak resmi. Kami masih terus memantau intensif akitivitas Gunung Tambora," ujarnya.

Gunung Api Tambora pernah meletus dahsyat pada tahun 1815 yang diawali dengan peristiwa gemuruh yang menggelegar. Letusan tersebut diikuti dengan lontaran hujan abu pada tanggal 5 April 1815. Letusan paroksimal terjadi pada tanggal 10 April 1815 dan berakhir pada tanggal 12 April 1815 dengan energi yang dikeluarkan setara 171.428,60 kekuatan bom atom. Letusan itu menyebabkan terbentuknya kaldera berdiameter 7 km.

Letusan Gunung Tambora yang menelan korban hingga 92.000 jiwa itu juga terdengar hingga ratusan kilometer jauhnya. Pada periode tahun 1847-1913 terjadi erupsi di bagian dalam kaldera yang menghasilkan leleran lava dan terbentuknya Kawah Doro Afi Toi yang berarti gunung api kecil. (Edy Gustan|Mataram, eh)

Baca juga: Kisah Nestapa Akibat Letusan Tambora 1815



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ