VIVAnews - Sumardy, CEO Perusahaan Marketing Buzz & CO, membuat kehebohan saat berusaha 'mengiklankan' bukunya, Rest in Peace Advertising. Peti mati dikirim ke sejumlah alamat, termasuk kantor media massa, sebagai contoh bentuk buzz marketing atau pemasaran ketuk-tular.
Namun, ahli marketing Rhenald Kasali menilai cara pemasaran ketuk-tular yang dilakukan Sumardy cenderung berdampak negatif. Menurut Rhenald, banyak cara pemasaran yang bisa dilakukan dengan cara yang lebih menyenangkan.
"Sepertinya kehabisan akal. Kalau membuat orang lain tidak senang, itu bukan marketing," kata Rhenald saat berbincang dengan VIVAnews, Senin malam, 6 Juni 2011. "Karena marketing itu kan bagaimana membuat orang lain happy, sehingga dia akan merekomendasikan lagi ke orang lain," lanjut Rhenald.
Cara pemasaran yang dilakukan dengan cara negatif pun membuat orang lain akan meragukan produk yang dipasarkan. "Apa produknya sedemikian buruk sehingga dipasarkan seperti itu?" tutur Rhenald.
Menurut Rhenald, wajar jika peti mati yang dikirim menimbulkan ketakutan bagi orang lain. "Peti mati jelas surprise yang tidak menyenangkan. Itu kan simbol ancaman, simbol kedukaan, simbol kesulitan," jelas Rhenald yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.
Apalagi, Rhenald memaparkan, situasi di Indonesia masih dihantui sejumlah aksi teror. "Sejak ada teror bom buku, masyarakat kan jadi khawatir dengan paket mencurigakan," ujar Rhenald.
Akibat mengirim peti mati, Sumardy pun terancam sanksi hukum. Sumardy dilaporkan oleh penerima peti mati dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan.
Sumardy dan sejumlah stafnya dibawa ke Polsek Tanah Abang untuk dimintai keterangan. Tidak hanya itu, kurir pengirim peti mati juga ikut diperiksa oleh kepolisian. (umi)